Balada Rangka Besi

climber-on-rapel_19-110954Sebagai penanggungjawab pengerjaan papan panjat, Opik dilanda galau. Ia baru mengetahui kalo rektorat mensyaratkan pengerjaannya harus melalui kontraktor pihak ketiga. Maklumlah namanya juga mahasiswa, belum terbiasa dengan masalah-masalah seperti itu.  Kalau begitu, tak akan ada dana sisa untuk kas perhimpunan bila semuanya merupakan hajat rektorat dan kontraktor. Tanpa ada yang mengarahkan, kala itu pertengahan tahun 1995 akses ke kontraktor belumlah mudah. Mungkin mendengar kata ‘kontraktor’, ‘rekanan’ juga baru saat itu 🙂 Padahal obsesi para pemanjat PLW untuk segera punya papan panjat sendiri sudah tak terbendung. Para penggiat rafting akan segera punya perahu selfbailing Tigershark, sementara para climber belum juga punya wall climbing sendiri.

Saat sedang mengurut kening di Sekret, tiba-tiba ide kreatifnya muncul melihat Bar yang sedang santai tiduran seperti tak pernah ada masalah. Tentu saja, sebagai penggiat rafting, ia lebih mengkhayalkan segera duduk di boeing Tigershark dibanding memikirkan papan panjat.

“Bar, geus we maneh jadi ngaku jadi kontraktor nya,” usulnya.

“Naon ta teh… ” yang ditanya juga tak paham ,” nu sok ngontrak imah?”

“Lain, rekanan keur ngabangun wall climbing tea.”

“Wah..urang mah ngabelay ge tara komo ngabangun wall.”

“Kalem eta mah, ieu asal duitna turun heula we..engke batur nu ngabangun na mah.”

“Oh kitu..” Bar baru paham,” no problem ari kitu mah ..hayu wae.”sahutnya ringan saja, sambil nyeruput kopi kembali tidur-tiduran.

“Sip atuh ari kitu mah,” Opik berseri-seri kembali. Ia langsung menyiapkan rencana audiensi dengan Bagian Umum rektorat.

Pada waktu yang ditentukan, Opik dan Bar menghadap ke Kabag Umum. Berkemeja rapi, tak lupa Bar membawa seberkas map, entah apa isinya. “naon eta eusina? bisik Opik. ‘teuing, tadi aya we di sekret ,meh gaya atuh’ balas Bar.

Sambil ngobrol ngaler ngidul di Bagian umum, sesekali pa kabag mendelik ke Bar. Agak curiga. Opik langsung mengalihkan perhatian dengan ngabulatuk lagi tentang teknis wall climbing. Trik ini  hampir berhasil, namun pa kabag tak bisa menahan keingintahuannya.

“Asa sering ningal ayi,” tanyanya mendelik  penuh curiga ke Bar.

“Oh muhun da abdi lulusan Unpad,” jawab Bar tenang. Padahal kuliah juga masih banyak mengulang.

“Ayi sanes ti Teknik?” pa kabag tak puas.

“Oh muhun dobel sareng Sipil.”

Pa kabag kelihatan puas, namun sebuah pertanyaan terakhir tak ada salahnya.

“Oh kitu nya.. kantos ngabangun wall sateuacan na?”

“Ah nu kieu mah tos biasa pa, terakhir di Jakarta… bla..bla..” jawab Bar asal. Opik melirik partner in crime-ya itu, khawatir jawaban-jawabannya semakin melantur. Tapi aman, pa kabag tampak puas dengan audiensi. Opik lega, setelah berpamitan sambil berjalan menuju Sekret ia menghembuskan nafas dengan penuh kelegaan. Yess.., pekiknya.

Akhirnya bakal jadi juga proyek wall climbing dambaan para pemanjat di PLW.  Namun proyek prestisius ini harus segera diselesaikan dalam waktu sesingkat-singkatnya, seperti proklamasi. Maka Opik bolak-balik dari tempat KKN nya di desa ke kampus untuk menggarap wall climbing pertamanya itu. Sebuah puisi Balada Rangka Besi   pernah dibuat oleh Rully Edward yang dipersembahkan bagi Opik atas dedikasinya membangun wall climbing pertama PLW ini.