Born on the 11th of February

1937391_1028224201568_6092525_nIt is in deep solitude that I find the gentleness with which I can truly love my brothers. The more solitary I am the more affection I have for them…. Solitude and silence teach me to love my brothers for what they are, not for what they say (Thomas Merton).

 

Kawah di zona puncak gunung Patuha dinamai Kawah Putih karena secara keseluruhan lingkungan kawah ini tampak berwarna putih yang disebabkan abu gunung api. Akan keterlaluan bila saya mencantumkan Kawah Putih sebagai tempat kelahiran di KTP. Namun momen yang dirasakan di zona kawah saat itu merupakan salah satu klimaks dalam diklat sehingga angkatan yang lahir dinamakan dengan nama Kawah Putih.

Pada tahun pertama kuliah saya berada diantara barisan mahasiswa baru yang sedang mengikuti diklat di gunung Patuha (2.194 meter dpl). Menjelang sore hujan mengguyur deras, udara yang dingin terasa menghujam,  kabut menghalangi pandangan, dan badan basah kuyup karena dilarang menggunakan ponco. Setelah longmarch yang melelahkan dari Ciwidey, itulah kondisi yang didapat saat tiba di lokasi tujuan. Sementara sekelompok pelatih dengan memakai raincoat berlindung di shelter dengan masing-masing memegang segelas minuman jahe panas.

 

Tiga minggu di lapangan

Diklat pada bulan Januari hingga Februari itu berlangsung selama 21 hari yang menguras fisik dan mental, ditambah tiga hari pra-MO sehingga total menjadi 24 hari yang padat. Belum lagi sebulan binjas yang rutin. Di medan operasi saya menyaksikan robohnya rekan satu persatu, tangis tertahan merasakan sakit, air mata yang bercucuran hingga tetes darah pertama jatuh diserap bumi yang sangat mengusik hati kecil saya. First blood…

Saya merasakan emosi yang menyayat selama diklat yang dilalui dari hari ke hari. Rasa emosi yang beraduk itu membakar ego hingga medan operasi lalu menjadi masalah pribadi. Saya tak lagi memikirkan masalah kesakitan dan luka-luka namun sebuah harga diri, lalu menjadi tak peduli diklat berjalan berapa lama atau materi apa yang menunggu atau apakah saya masih hidup hingga diklat selesai. Ketika ego sudah membatu, ia lebih keras kepala dari kekuatan alam apapun. Tak kan pernah terucap  perkataan menyerah dan sejenisnya dari mulut, demikian saya bersumpah.

 

Ikatan persaudaraan

Saya kagum pada semangat juang rekan-rekan dan banyak belajar dari mereka.  Bila ada yang membantu tetap bertahan hingga pelantikan, itu adalah semangat juang yang ditunjukkan rekan lainnya. Semangat pantang menyerah yang mereka tunjukkan turut membakar saya tetap bertahan menghadapi kondisi ekstrim. Pada mereka yang berbaris disamping saya di pagi yang dingin itu pada hari pelantikan, saya berjanji kapanpun mereka meminta saya kembali berdiri di sampingnya maka saya akan datang.

Tanpa mengurangi rasa hormat pada pelatih di medan operasi atau panitia yang merancang diklat itu, setelah aktif berorganisasi saya berjanji akan merombak materi diklat hingga tak akan pernah lagi  medan operasi berjalan se-ekstrim yang kami alami.  It’s enough..! Diklat pecinta alam di kampus harus terlaksana tak hanya mengandalkan fisik dan semangat, namun harus ada sistem yang rapi,  safety prosedur berlapis dan visi ke depan.

Sungguhpun demikian…., bila demi mendapatkan ikatan persaudaraan yang saya rasakan dengan legiuner seangkatan, bahkan bila diklat   berlipat-lipat kali lebih ekstrim dari itupun akan saya terjuni. Tanpa ada keraguan.