Mukena Pudar di Pojok Mushola

Negri jauh menjadi pilihanmu untuk pergi
Ramadhan menjadi pilihanmu untuk pulang
Sedekah menjadi pilihanmu untuk bernaung
Pena telah diangkat dan catatan telah mengering
Wahai jiwa yang tenang
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai
Selamat jalan sahabat
Doa kami menyertaimu     
– WD, 2018

in memoriam  Derien Dwi Kadarno a.k.a Dwi Iriani Setiawati

Masih kuat di ingatan pada hari Minggu tanggal 27 Mei 2018, tiba tiba mendapat kabar duka, “Teh Derien telah menyusul teh Lely……” Saya langsung lemas. Walaupun sebelumnya sudah mengetahui beliau sedang dirawat di Rumah Sakit di Astana, Kazakhstan tapi saya tetap tidak menyangka.

Mengenang teh Derien adalah mengenang ‘how to maintain friendship and how to share goodness’. Meskipun baru mengenalnya sekitar 2,5 tahun, tetapi saya dan teman lain di DO girls seperti sudah merasa lama dekat.
Perkenalan awal dengan beliau adalah di inbox FB saat ia ingin membeli ‘buff’ yang saya jual di group dan berminat join program Saturday Outdoor dengan teman-teman di DO. Dari situ mulai bertukar no WA dan rencana kopdar yang kemudian bertambah akrab ketika ia mengundang buka puasa bersama di rumahnya di jalan Macan. Yang saya ingat dia meminta saya untuk mengajak  Cila.
“Kalau yang lain sudah saya japri undang langsung”, begitu katanya.
Suasana akrab langsung kami rasakan kala berkumpul di rumahnya, seperti halnya seorang kakak yang ‘ngasuh’ ke adik-adiknya.

Tak lama kemudian beliau pun mengenal teman-teman DO girls lain. Keberadaan teh Derien di tengah tengah kami saat hiking tentu memberikan kenyamanan tersendiri karena ada ‘gegedug’ Palawa yang sudah berpengalaman. Setidaknya sebagian dari kami yang baru terkena ‘hiking virus’ atau dulunya bukan hiker sejati bisa belajar dari pengalamannya.

Hal positif yang paling saya ingat setiap melakukan kegiatan hiking, beliau selalu memeriksa perlengkapan sholat di mushola atau surau surau di kampung yang kami singgahi. Kemudian ia merapikan mukena-mukena lama yang sudah tidak layak pakai lalu menyimpannya di pojok mushola. Mukena baru ia keluarkan lalu ia simpan di lemari atau rak mushola tersebut. Terkadang lengkap dengan Al Quran, sejadah dan tasbih, terkadang hanya mukena baru saja. Momen yang sering saya tangkap.

Pertemanan pun berkembang tidak sebatas hiking saja, ‘hang out’ sekedar ngopi, memburu kuliner mulai dari baso cuanki sampai sayur asem di sebuah warnas di Padalarang. “Mrs. King…kebut ajalah, siapa takut” begitu dia memanggil Nunung  yang menurutnya mengendarai kendaraannya bak di film Fast and Furious. Sekali waktu pernah berjalan kaki bersama dari warung indung milik Lia  di Rancakendal ke daerah rumah orangtua saya daerah Cibeunying Kolot, sehingga ibu saya pun bisa mengenal sosok teh Derien yang ramah. Juga ketika Wiji melakukan kunjungan dinas ke London, beliau memberikan jalan agar Wiji bisa berkesempatan bertemu dubes di sana yang juga merupakan kerabat teh Derien. Pernah juga saya menginap di tempat beliau di daerah Tebet dan nongkrong di Markobar Cikini sambil mendengarkan cerita masa mudanya. Dari ceritanya saya bisa menyimpulkan betapa ia sangat menyayangi ibundanya. Sifatnya yang senang menjaga pertemanan diperlihatkan pada saat Manglayang Trail Running dengan tak segan segan memperkenalkan saya pada teman-temannya.

Beliau mulai mengurangi kegiatan hiking bersama ketika mulai disibukkan mengurus dokumen untuk keperluan kepergiannya ke Kazakhstan. Farewell party yg sederhana pun dilakukan di rumahnya beberapa minggu sebelum beliau pergi.

Setelah menetap di sana hanya sesekali japri. Tapi pernah suatu waktu ia menanyakan jam istirahat kerja saya karena ia ingin melakukan WA call. Hampir satu jam lebih ia bercerita keadaan kehidupan di sana. Dari suaranya, saya tau ada rindu yang membuncah akan ‘baso lada’ dan suasana Bandung, juga keinginanya menyusuri bukit bukit di wilayah Bandung bersama lagi.

Sekali waktu pernah WA Nunung hanya menanyakan apakah Novi  suka sama kupu-kupu, karena beliau berniat memberikan hadiah mukena bergambar kupu kupu, “Takut Novi  gak suka kupu-kupu”, begitu katanya.

Komunikasi agak intens terakhir sekitar dua bulan yang lalu ketika ia memberikan kado dan menitipkan beberapa coklat buat teman teman. “buat  Rully dan Nurul juga ada”, begitu ia mengabsen satu satu.
Saya pun WA call beliau menghaturkan terima kasih. Ada kerinduan akan combring dan rangginang yang akhirnya kami berinisiatif untuk mengirimkannya ke sana.

Lalu beliau mengutarakan bahwa pertengahan tahun ini akan pulang kampung, tak disangka ternyata ia pulang untuk selamanya.

Teh Derien, hari ini teteh dikebumikan, mohon maaf bila diantara kami tidak bisa mengikuti prosesi pemakaman karena jadwal pemakaman dan kendala jarak yang tidak memungkinkan kami untuk hadir. Tapi dari sini Insha Allah doa-doa akan tetap mengalir deras untuk teteh.

Sebenarnya ada kabar baik dari kami yang belum sempat kami sampaikan. Kini kami bukan “DO girls” lagi, tapi telah bermetamorfosa menjadi perempuan perempuan dewasa yang saling menguatkan. Tidak hanya melakukan hiking ceria untuk kesenangan saja, tapi juga melakukan sesuatu yang bisa bermanfaat bagi masyarakat luas.

Sebagai tribute to teh Derien, maka setiap kami melakukan kegiatan outdoor, kami akan berinisiatif menyimpan mukena di mushola mushola yang kami kunjungi, meneruskan langkah kebaikan yang telah teteh contohkan.

Selamat jalan, Teh. Tempat terbaik penuh cahaya telah menunggumu.

Bandung, 31 Mei 2018

 

Penulis : Tanti Brahmawati

Foto  : Derien Dwi Kadarno