Nike Ardilla Campur John Denver

376986_289440547753600_795765953_nby Riza Fahriza

Masih ingatkah nama Nike Ardilla? ya pastilah masih mengingat khususnya generasi di era 90-an, kalau generasi 2000-an pasti tahu juga merennn meski belum mendengar suaranya. Tapi kalau penasaran khususnya generasi 2000-an, bisa iseng-iseng buka saja buka mbah google pasti akan terpampang nama aslinya Raden Rara Nike Ratnadilla Kusnadi, lahir di Bandung, Jawa Barat, 27 Desember 1975 meninggal di Bandung, Jawa Barat, 19 Maret 1995 pada umur 19 tahun.
Mbah google juga menyebutkan almarhum seorang penyanyi, pemeran dan model, Nike Ardilla
tewas pada 19 Maret 1995 ketika mobil Honda Civic yang dikendarainya menghantam beton di jalan Raden Eddy Martadinata di kota Bandung.
Tapi saya tidak akan membahas lebih jauh soal sosok Nike Ardilla. Tapi mendengar nama artis cantik satu itu, hanya jadi romantisme saja saat kemacetan di lampu merah sudut Kota Bekasi, tepatnya di Bulak Kapal. Saya yang tengah menumpang elf —maklum kaum pinggiran yang tinggal di daerah elit “BSD” (Bekasi Situan Dikit), tepatnya Cibitung yang dahulunya terkenal dengan nama Malvinas —sekarang sudah berubah jadi RSUD Kabupaten Bekasi—, sisa-sisa penghuni Malvinas sekarang tinggal di Pulau Nyamuk di pinggir rel yang mengarah ke rumah saya. Mangga nu bade nyimpang, siap abdi jadi guide na lah.
Bau badan penumpang benar-benar sudah tak tertahan lagi bercampur dengan asap knalpot, eh ada juga bau sepatu makin membuat tidak betah tapi mau tidak mau harus tetap di elf itu untuk sampai ke rumah. Saat kemacetan, elf kebetulan berhenti di depan toko CD dan menyetel lagu Bintang Kehidupan, Nike Ardilla. Dalam rangka romantisme, pikiran pun melayang kembali ke masa tahun 1996 saat mengikuti pengembaraan mengambil nomor untuk menjadi Anggota Biasa.
Pengembaraan saat itu, perintisan jalur Gunung Slamet dari arah Baturaden, Purwokerto, Jawa Tengah, memang edunlah jalurnya satu pekan harus jatuh bangun di kepekatan rimba Gunung Slamet. Setelah sebelumnya di Terminal Purwokerto yang dahulu, ditakuti-takuti preman yang mengingatkan. “Dik, hati-hati di Gunung Slamet, dinginnn,” kata preman itu dengan bahasa khas Purwokertonya.
Kita pun hanya tersenyum saja tapi ditanggapi oleh Kang Dodi menggunakan Bahasa Sunda, “Puguh we, di gunung mah tiris atuh ma enya panas,”.
Belum lagi sebelum perintisan jalur, kita tidak sengaja mengganggu dua sejoli yang entah mungkin hendak “cipokan”. Kita pun keceplosan, meneriakan “woiii”, kontan prianya pura-pura bersiul sambil melihat pohon entah apa yang dilihatnya da puguh mah eta daun bukan pemandangan, sedangkan si wanitanya melihat ke bawah sambil mengelus-ngelus rambut panjangnya. Padahal mah, kita bukan polisi syariah, sok we lanjutkan kembali niatnya dan abdi mah ngiring ngalangkung wungkul, dalam hati saya. “Permisi Mas,” kata saya, Si Mas itu yang anonim namanya, menjawab tergagap “Mari, mari,”.
Tim pengembaraan gunung hutan itu sendiri, Ketua Timnya Ulloh, anggota saya sendiri dan teman satu angkatan, Rio Wibowo (Alm), kita-kita itu diistilahkan dalam pangkat kemiliteran berpangkat kopral, sedangkan pembimbingnya letnan, Kang Opik dan Kang Dodi.
Waktu satu pekan memang melelahkan karena harus menebas dan merintis jalur baru, terkadang ngegasruk turun naik belum lagi tereptep and daun pulus yang membuat bulu kuduk merinding. Pas malam hari menjadi malam yang benar-benar nikmat, setelah membuat base camp dan memancangkan flysheet menjadi tenda, sembari ditemani kopi dan menyalakan rokok, terasa indah sekali dunia.
Yang tendengar hanya suara desauan angin dan suara serangga malam saja serta suara binatang hutan lainnya. Satu persatu anggota tim mulai menyembunyikan tubuhnya dalam kantung tidur, saya yang sulit tidur entah mungkin karena terlalu kecapean. Untuk memancing tidur, saya pun mengeluarkan walkman merek Sony dari backpack. Setelah menekan tombol play, suara Iwan Abdurrahman dengan Sejuta Kabutnya tendengar merdu. Sedang asyik-asyiknya mendengar lagu, ketua tim pengembaraan Ulloh, minta ikut mendengarkan musik. “Cik ah, sabelah ewang earphone na,” katanya.
Kita pun sama-sama terdiam kembali mendengarkan tembang demi tembang Iwan Abdurrahman, kemudian beralih ke Om John Denver dengan tembang Annie’s Song sampai habis lagu itu.
Tiba-tiba saja, Ulloh memotong saat mendengarkan lagu. “Naha Jo, jadi Nike Ardilla, maenya tadi Iwan Abdurrahman, John Denver….,” katanya.
Sayapun hanya bisa tersenyum saja dan teramat berat untuk mengakui kesalahan merekam lagu. “Sori, Loh, poho kaasupken Nike Ardilla, teu kahaja uy,”. Tapi karena kita pun haus hiburan mau tidak mau tetap mendengarkan lagu Bintang Kehidupan, mudah-mudahan bintang-bintang di atas juga turut erhibur dengan lagu itu karena namanya beberapa kali disebut dalam syairnya. Hingga kita pun tertidur, karena perjalanan masih panjang….oh iya satu lagi, pas di Puncak Gunung Slamet, tiba-tiba jadi pada rajin Salat.
Terlepas itu, ada manfaatnya juga, pas karaokean dengan teman-teman jadi bisa juga menyanyikan lagu Bintang Kehidupan.

Jenuh aku mendengar manisnya kata cinta
Lebih baik sendiri
Bukannya sekali, Seringku Mencoba
Namun kugagal lagi
Namun nasib ini suratan tangaku harus tabah menjalani….

Wassalam