Posting Tulisan ke-200

36876_135459789811321_4272150_nKala tulisan ke-200 ini diposting, web berumur lima bulan ini diakses sekitar 6000 view. Sungguh menggairahkan, karena awalnya web dibuat hanya untuk memindahkan tulisan-tulisan dari hard disk dan linimasa. Kebanyakan tulisan bercerita tentang sebuah generasi mahasiswa yang selama satu dasawarsa mewarnai kampus UNPAD di Jalan Dipati Ukur yaitu tahun 90-an. Warna petualangan sangat kental dalam hampir semua tulisan, hal yang wajar karena yang menyumbangkan tulisan kebanyakan mempunyai latar belakang anggota PMPA PALAWA UNPAD dari beragam tahun ajaran.

Namun tulisan-tulisan ini tak semata-mata membicarakan dunia mereka melainkan bercerita tentang interaksinya dengan beragam elemen kampus kala  itu dan juga masyarakat luar kampus . Beberapa mengangkat tema warung nasi, tukang kueh, dan tentunya kegiatan mahasiswa di kampus yang ada kalanya dalam suasana mesra namun ada juga masa ketika friksi-friksi terjadi. Ada yang bicara ekonomi, suasana realitas sosial atau tentang sepakbola jaman itu.

Semua adalah dinamika yang terjadi eksklusif pada masa itu, yang tak mencerminkan situasi yang sama tahun-tahun setelahnya. Tersurat bahwa kampus UNPAD Jatinangor yang kini rimbun oleh pepohonan dulu dilukiskan oleh mereka seperti gambaran Mexico dalam film-film koboi Hollywood, yaitu gersang, lahan kosong bertanah merah dan debu panas yang beterbangan tertiup angin.

Mungkin tak terbayang oleh generasi sekarang bahwa tahun 1992 makan nasi di warung depan kampus bisa kenyang hanya dengan Rp 250,- atau ongkos DAMRI Rp 300,- dari DU-Jatinangor. Uang kuliah 1989 per semester 60 ribu rupiah, tahun 1991 naik 90 ribu rupiah lalu 120 ribu dan seterusnya. Betapa berharganya uang 5000 rupiah kala itu karena ongkos angkot masih berkisar ratusan perak. Dari cerita-cerita ngacapruk itu, bisa ditelusuri sebuah sejarah ringan yang walau tak mencoba rinci bisa membuat yang membaca memiliki gambaran pada masa itu dan bisa membandingkannya dengan berkehidupan masa kini.

Beberapa opini tulisan akan tampak relevan dengan kondisi saat ini bahkan tahun-tahun kedepan. Hal ini mengindikasikan sebuah dialog dalam linimasa kurun waktu tersebut. Bila dibaca seksama, apa yang mereka tulis bukan hanya apa yang terjadi saat itu melainkan sebuah interaksi dan dialog pemikiran yang terbuka hingga hingga kini.

Mereka yang duduk dibangku kuliah tahun 90-an merupakan generasi yang lahir tahun 70-an, disebut-sebut generasi terakhir sebelum era digital. Banyak yang menilai betapa bahagianya merasakan hidup kala belum ada ponsel, medsos dan globalisasi. Banyak yang rindu pada komunikasi tatap wajah dan kesahajaan era itu, maka sedikit banyak hal itu mewarnai juga tulisan-tulisan di web ini. Jadilah storyofthepack sebuah web untuk bernostalgia sambil terus merajut persahabatan yang tak sebatas petualangan, dengan linimasa pemikiran yang terus aktif hingga kini dan masa mendatang.