Peran Strategis Mapala dalam Kebencanaan

SEKILAS BENCANA
Posisi geografis Indonesia yang terletak dalam Ring of Fire menjadikannya sangat rentan terhadap beragam bencana baik tektonik, vulkanik, tsunami dan lainnnya. Terhadap bencana tsunami misalnya, UNISDR medudukkan Indonesia pada peringkat pertama dari 265 negara yang disurvei oleh PBB. Selain tektonik, vulkanik dan tsunami yang paling banyak merenggut korban, berbagai bencana alam lain juga mengintai setiap saat seperti tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan, angin puting beliung, gelombang pasang, abrasi, banjir dan kekeringan. Selain bencana alam, bisa juga terjadi bencana non alam seperti kecelakaan industrsi seperti Chernobyl, epidemic virus seperti sekarang Virus Corona, kerusuhan social, sabotase hingga aksi teror. Dapat dibayangkan betapa rentannya negara ini terhadap semua potensi kebencanaan yang ada.

SISTEM PENANGGULANGAN BENCANA
Indonesia sudah memiliki badan negara yang berwenang dalam merespon berbagai bencana yang terjadi yaitu Badan Nasional Penanggulangan Bencana dengan dasar hukum UU No 24 tahun 2007. Selain itu juga terdapat TNI, POLRI, Basarnas dan berbagai lembaga yang akan ditugaskan merespon setiap bencana yang terjadi. Selain itu kini banyak lembaga-lembaga kemanusiaan dan philantrophy nasional maupun internasional yang concern dengan bencana yang terjadi dinegara ini.
Keterlibatan berbagai lembaga kemanusiaan pada setiap bencana sangat membantu penanganan bencana, namun sumber ketahanan bencana adalah masyarakatnya sendiri. Kekuatan karakter dari rakyat Indonesia sendirilah yang akan menjadi daya tahan negara ini terhadap bencana yang bertubi-tubi menerpa. Sifat tolong menolong, rela berkorban, dan kedermawanan dari masyarakat Indonesia juga menjadi factor yang utama dalam menolong masyarakat lain yang terkena bencana. Budaya tanggap bencana ini sudah ada dalam kepribadian bangsa Indonesia, yang diperlukan adalah bagaimana terbentuknya system yang memadai untuk mensinergikan semua potensi.

POTENSI ELEMEN MASYARAKAT
Setiap terjadi bencana, berbagai elemen masyarakat akan bahu membahu dalam melakukan segala yang bisa dilakukan untuk menolong korban bencana. Tindakan sukarelawan ini sungguh merupakan modal yang besar dalam memberi harapan pada korban bencana dimana survivor melihat bahwa mereka tak sendiri dalam menghadapi cobaan ini.


Yayasan Palawa Indonesia (YPI) tidak mengkhususkan diri dalam tanggap bencana namun sejak berdirinya tahun 2006, YPI melalui Divisi Disaster Management lebih banyak akrab dengan penanganan tanggap darurat di berbagai bencana diberbagai wilayah Indonesia seperti gempa Pangalengan 2008, gempa Padang 2009, letusan Merapi 2010 hingga yang terakhir banjir Jabar, DKI dan Banten yang baru saja diakhiri masa tanggap daruratnya.


Pergaulan YPI yang dekat dengan lingkungan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) dan pegiat outdoor Indonesia telah menjadikannya partner yang ideal dalam penanganan bencana. Dari pengalaman sejak 2006 ditanah bencana, YPI menilai kehadiran para relawan dari organisasi Mapala se-Indonesia ini sebagai salahsatu tenaga relawan terbaik ditanah bencana. Mereka rata-rata telah bermental tangguh dan berbekal skill mumpuni yang diperlukan dalam kondisi ekstrim. Pengalaman YPI dalam tanggap darurat Lombok 2018 misalnya dimana diperlukan personil yang memiliki skill panjat tebing sangat membantu memasang pipa-pipa air di tebing gunung Rinjani. Dalam banjir bandang di Jabotabek, skill mengendalikan perahu terasa sangat krusial dalam menangani banjir, dan dalam longsor di Lebak ketangguhan para offroader menjadi ujung tombak membuka isolasi.

JARINGAN MAPALA
Setiap universitas atau perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di Indonesia, hampir bisa dipastikan memiliki organisasi Mapala. Sejak tahun 1974, jaringan Mapala telah mempunyai piagam bersama yang menjadi dasar hubungan setiap Mapala yang ada. Piagam Gladian 1974 yang salah satu butirnya menyebutkan “..mempererat tali persaudaraan antar pecinta alam..” telah menjadi semacam Magna Charta bagi setiap Mapala bahkan organisasi pecinta alam lainnya. Pada gilirannya naskah Kode Etik Pecinta Alam yang dirumuskan pada Gladian 1974 ini menjadi kode etik setiap Mapala yang ada di Indonesia. Setiap tahunnya jaringan ini semakin solid dengan adanya pertemuan rutin tahunan dan latihan gabungan yang bergiliran diseluruh wilayah Indonesia.
Kelengkapan peralatan yang dimiliki organisasi Mapalabila diorganisasikan bahkan bisa melebihi peralatan yang dimiliki oleh lembaga berwenang. Sebagai contoh, di kota Bandung misalnya yang memiliki banyak Universitas dan Perguruan Tinggi, bisa dipastikan gabungan Mapala ini memiliki perahu karet, kendaraan offroad dan peralatan keselamatan jauh lebih banyak dari yang dimiliki oleh Badan Penanggulangan Bencana daerah kota Bandung sendiri. Bila tiap organisasi Mapala itu memiliki setidaknya 40 anggota yang aktif dari sekian ratus anggotanya, bisa dibayangkan potensi yang ada.


YPI melihat bahwa jaringan Mapala merupakan partner yang strategis dalam melakukan operasi kemanusiaan pada masa tanggap darurat. Kecepatan mereka dalam turun ke lokasi bencana mungkin hanya disaingi oleh Basarnas dan BNPB. Mengapa? Karena pada setiap bencana yang terjadi, selalu ada Mapala atau organisasi pecinta alam di kota terdekat yang bisa langsung turun ke lapangan. Beda dengan lembaga kemanusiaan lain yang harus mengorganisasikan dahulu dari pusat. Hal inilah yang menjadi pertimbangan YPI untuk selalu menjadikan jaringan Mapala sebagai partner dalam setiap operasi kemanusiaan.