Susur Sungai Mekong : No Beer, No Tourist

“Hudang, Mas..geus jam tilu,” ujar Bar membangunkan Mas. Jam tiga dinihari, bukan sore loh…tak berapa lama kemudian mereka sibuk packing sambil terkantuk-kantuk.

“Asa distelling euy..” gumam Mas masih setengah bermimpi. Ia baru tidur 2-3 jam yang lalu. Posisi mereka saat ini di Chiangkong, kota perbatasan Thailand-Laos. Tiba pada malam hari, setelah kasak-kusuk mencari hotel, makan dan mencari informasi bis pagi ke Chiangrai, mereka baru kembali ke hotel sekitar pk 12 malam. Besok sepagi mungkin harus evakuasi ke Chiangrai, karena darisana masih satukali perjalanan bis lagi yaitu ke Chiangmai, mengejar flight.

Ide menyusuri sungai Mekong sudah menghantui sejak beberapa tahun lalu, kala Bar pertama melakukan perjalanan darat Thai-Laos jalur yang sama 2015 lalu. ( Lihat : Back to Lao Rute Bokeo ) Bila dulu dengan Bais, kini tandem dengan Mas Oktavian yang sedang semangat backpackeran. Walau sudah menduga, Mas cukup terkejut dengan pola backpackeran kali ini. Push..push..push, ujar Bar, menjelaskan pola pergerakan mereka. Blitzkrieg memang jadi favorit untuk menghemat waktu dan devisa.

Tiga hari lalu mereka tiba di Luang Prabang, Laos pada tengah hari, setelah transit semalam di Changi. Maklum mengejar flight Scoot yang murah ke kota ini. Setelah orientasi seharian mereka meninggalkan kota UNESCO Heritage itu esok paginya. Longboat meninggalkan Luang Prabang pk 08.15 menuju Pakbeng. Tiba di Pakbeng menjelang magrib, segera mencari homestay lalu makan di resto Hasan yang berlabel halal tapi tetap menyediakan bir. “No beer, no tourist,” ujar pemiliknya pasrah.

Pier longboat di Pakbeng

Esok paginya sekitar jam yang sama, longboat yang berbeda meninggalkan Pakbeng menuju Huay Xai. Perjalanan dua hari menyusur sungai Mekong ini memakan jarak sekitar 300 kilometer. Familiar dengan suasana sungai sejak dulu, mereka tak kesulitan beradaptasi dengan suasana sungai selama 8 – 9 jam . Dibawa santey, we…gumam Mas sambil ngopi dan merokok di kamar mesin longboat. Memorinya melayang ke sungai-sungai Citarum, Cimanuk, Cikandang di Jawa Barat yang mengiringi pendewasaannya. Sekilas wajah-wajah teman seperjuangan masa lalu bergantian bermunculan.

Tiba di Huay Xai jelang magrib, keduanya segera bergegas menuju perbatasan Thailand agar bisa segera ke Chiangrai, kalau bisa. Kalau tidakya minimal bisa sampai di Chiangkong. Beruntung, imigrasi masih buka hingga mereka sampai disana sekitar jam 7an malam. Petugas imigrasi Laos dengan ramah mengecap paspor mereka, namun dengan mengedipkan mata ,” One dollar, plis”

Nah , kini setelah di Chiangkong mereka harus sepagi mungkin menuju Chiangrai. Dari hasil ormed semalam diketahui ada bis paling pagi ke Chiangrai, namun informasi jam keberangkatannya kabur antara jam 4 atau 5 pagi. Tak mau ambil resiko, keduanya nikreuh dari hotel jam 3an.

Ternyata bis 3/4 warna merah yang melayani trayek ke Chiangrai sepagi itu, sementara bis AC Greenbus yang besar baru menggeliat jam 7 pagi. Ongkos red bus ini 65 baht cukup bersahabat dengan kantong. Bis datang tepat jam 5 pagi didepan minimart 7 Evelen depan pasar. Perjalanan ke Chiangrai ditemani twilight suasana fajar, dengan waktu tempuh 1,5 jam.

Setiba di terminal Chiangrai, Mas langsung sigap antri ke loket. Sementara Bar cukup terkesima dengan tampilan terminal bis Chiangrai yang baru, berbeda sama sekali kala empat tahun lalu kesini. “Ari terminal Cicaheum puluhan taun kitu-kitu keneh we balangsak…,” gumamnya.

Mas kembali dengan wajah putus asa, ” Teu kabagean tiket, paling aya jam 11,” lapornya. Waktu keberangkatan jam segitu sudah tentu tak akan bisa mengejar flight jam 13.50 di Chiangmai. Ia menunggu keputusan seniornya untuk pergerakan selanjutnya.

“Ngopi heula we lah..kalem,” ujar Bar, sambil menunjuk ke arah Connect cafe yang sudah buka diseberang terminal. Mas ikut saja, dipikir-pikir memang jangan panik, sambil cari alternatif dengan kepala dingin.

“Americano+brownies,” pesan Bar. Perlu kopi hitam seharga 40 baht ini untuk mengusir kantuk. Setelah meminta password wifi, mereka browsing-browsing cari inspirasi beberapa lama sambil ngopi.

“Geus we urang make Grab,” tak lama kemudian Bar ada ide, sejenak santai minum kopi memang selalu ada gunanya. Alternatif ini memang tak murah, tapi akan lebih mahal bila tiket flight hangus dan beli lagi. “Paling sajuta nyewa grab ka Chiangmai, bagi dua 500 rb ewang. Tiket Greenbus ka Chiangmai pan sekitar 300rban, leuwih ti anggaran tapi masih aman,” Bar menjelaskan.

“Satuju, kang,” Mas mengamini alternatif itu.

Syukurlah aplikasi Grab bisa dipakai dinegara yang berbeda. Sewa taxi grab Chiangrai ke Chiangmai sekitar 2000 baht, dua setengah jam kemudian merekapun sampai di bandara Chiangmai. Cukup banyak waktu untuk menunggu flight pulang. Aman. (2019)