Dulu Mengejar Semeru-Rinjani, Kini Membidik ABC-EBC

Ada suatu masa kala mendaki gunung Semeru atau Rinjani kita diberkati oleh suasana syahdu dimana hanya akan berjumpa segelintir pendaki lain. Mereka yang baru mendaki Semeru beberapa tahun kebelakang saja barangkali tak pernah berharap tak bertemu siapapun di Ranu Kumbolo. Pun mereka yang ingin mendaki Rinjani jangan berharap sepi di Segara Anak.

Namun itulah yang bisa dinikmati era 90 hingga awal 2000-an. Ya tentu saja, wong itu sudah puluhan tahun lalu ­čśÇ

Kala itu mendaki Semeru dan Rinjani ibarat wajib bagi seorang pendaki gunung. Bukan karena gunung-gunung lain tidak menarik, tapi semata kepopulerannya sebagai ikon pendakian gunung yang luar biasa. Dan memang kita tak akan menyesal mendakinya karena dibuai oleh keindahan trek pendakiannya.

Waktu berlalu cepat, kini bila kita masih attached dengan ide mendaki gunung masihkah sebuah master piece untuk mendaki Semeru dan Rinjani? Bagi yang baru mendaki tentu saja ya. Keduanya tetap ‘wajib’ walau jangan berharap kesyahduan yang dulu.

 

Namun bagi yang telah mengenal Semeru dan Rinjani sejak dulu apalagi yang menjadi obsesi? Masa iya masih mengidamkan masak indomie di Kalimati atau Senaru. Bahkan mungkin mendaki Semeru sekarang nilainya sudah jauh berbeda tidak semegah bila mendaki Semeru dahulu.

Hasrat pencapaian seorang petualang tentu berproses. Beragam gunung yang dilewati merupakan pendewasaan pribadi lalu harus move on dan menyongsong horizon baru. Lalu harus kemana lagi?

Tentu banyak gunung lainnya di Indonesia yang menggelitik untuk didaki seperti Kerinci, Tambora atau Argopuro. Namun semua adalah gunung yang semasa dengan era Semeru. Bahkan obsesi seven summit nusantara pun, semua itu terjangkau oleh ruang pikir dan waktu saat kita berdiri di puncak Rinjani.

Kini dengan bekal yang didapat dari masa-masa itu, layaklah para pemburu tua menatap ke Nepal untuk menyempurnakan perenungannya. Sebagai Mekahnya  dunia mendaki gunung, gugusan pegunungan bersalju di Himalaya dapat menjadi sebuah penutup yang megah dalam bab-bab akhir cerita mendaki gunung.

Bila demikian maka Annapurna Base Camp dan Everest Base Camp layak dibicarakan dengan para sejawat. Sekali lagi mengepak ransel menuju udara tipis menggapai kebahagiaan hakiki seorang pendaki. Walau bukan puncaknya namun berdiri disana sudah merupakan master piece dalam karir mendaki gunung. Tentu saja banyak destinasi bersalju lain di Nepal namun seperti dulu mengidamkan Semeru dan Rinjani, kedua tempat itu yang paling ikonik.

Barangkali setelah itu kita bisa dengan tenang beristirahat dari dunia yang dicintai lalu berbagi cerita kepada generasi pendaki baru yang bermekaran dipelosok negeri ini. Semoga saja mereka akan bisa tiba disana lebih cepat daripada kita yang harus menunggu sekian tahun menjejakkan kaki di salju Nepal.

Jejak sepatu kita yang tertanam disalju akan segera hilang terhapus hujan salju mendatang, namun momennya abadi. Waktu ikut membeku di hamparan salju, sama seperti hening yang masih terasa hingga kini saat jejak kita berceceran di pasir Semeru.

@bayubhar