Duet Si Rahong dan Tiger Shark dalam Operasi Cimanuk

Waktu menunjukkan pukul 4 sore, dan hujan rintik-rintik mulai turun, tatkala 2 orang awak perahu terseret arus. Dan awak perahu kuning si Rahong tinggal tiga orang yang mau tidak mau harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengejar dan melemparkan tali rescue.

Si Rahong

Sedangkan awak perahu biru Tiger Shark tidak kalah sigap dan stand by dengan tali rescue. Pertama yang dapat dibantu yaitu Kang Dody, sedangkan Ajo terus terseret arus yang mengarah ke batu cadas di tepi kiri sungai.

Awalnya, si Rahong saat hendak memasuki hole tertahan batu, hingga saat lepas dan masuk hole posisinya tidak stabil. Dan akibatnya awak perahu yang berada di sebelah kanan terjungkal, karena kucuran air yang sangat deras dari hulu.

Keadaan genting sempat terjadi, tatkala Ajo yang sempat muncul ke permukaan dan tersedot kembali. Yang kelihatan hanyalah jari-jarinya yang secara perlahan mulai menghilang. Hal yang dikhawatirkan adanya under cut, bukan tidak mungkin akan menjadi ornamen abadi. Untung saja, tidak lama kemudian muncul di sebelah kanan perahu kuning.

Sungguh merupakan puncak kelelahan yang menguji kami diakhir operasi hari ini. Hal tersebut merupakan ujian alam yang pantas disiasati dengan persiapan matang.

Operasi ini didukung oleh 10 orang awak perahu yang dibagi dalam 2 tim, yaitu, tim 1 (perahu biru Tiger Shark), Diki (kapten), Ari, Olive, Dudi, dan Eman. Sedangkan tim 2 (perahu kuning Si Rahong), Mas (kapten), Dodi, Opik (Pak Manajer), Iskandar, dan Ajo.

Tiger Shark perahu self bailing pertama Palawa Unpad

Singkat cerita, kami telah menyelesaikan Etape I yang start awal di Kampung Jager dan finish di jembatan Leuwigoong, Garut. Sesampainya di finish, hujan rintik-rintik menyambut kami dan hari sudah menjelang sore. Akhirnya didapatkan juga lokasi yang agak representatif, letaknya di tengah-tengah antara jembatan Leuwigoong dan jembatan kereta api Cibatu.

Lokasi daruratpun dibersihkan yang lumayan “rembet” juga, dan tanahnya sedikit miring. Hal ini tidaklah merisaukan yang penting dapat istirahat setelah seharian mengurangi etape 1.

Perahu pun diportaging dengan sedikit kesulitan yang dilanjutkan dengan mengatur peralatan. Sedangkan personel lainnya, membuat tenda dan memasak.

Usai makan, acara briefing dan evaluasi yang dipimpin Pak manajer dimulai, dan tidak luput direkam pada tape recorder. Inti pembahasan mengenai kegiatan hari esok pengarungan etape 2, yang menurut kabar cukup berat…zzzz…

 

Minggu, 7 Februari 1999 

Pukul 05.30 semua personel dibangunkan dan sesekali terdengar umpatan “Busyet lagi asyik-asyiknya mimpi harus bangun”. Dan langsung bekerja sesuai job masing-masing, sekaligus mengganti pakaian tidur dengan pakaian perang.

Seusai makan, tambur perangpun siap ditabuh yang sebelumnya berdoa dahulu untuk keselamatan dalam perjalanan. Untuk lintasan ini diperkirakan akan menempuh ± 15 km. Hal ini berdasarkan perhitungan pada jarak lintasan dari peta.

Setelah melalui jembatan KA Cibatu, mulailah sambutan selamat datang etape 2 mulai terasa. Perahu pun bergoyang ke kiri dan ke kanan. Alunan arus sungai jeram pertama akhirnya dapat dilalui dengan lancar. Kemudian, perahu ditepikan ke arah eddies untuk pendataan.

Perahu bergerak cepat, dan dari kejauhan terlihat kapten tim Biru, Diki, terjatuh. Awak tim perahu kuning tidak sempat melihat lebih jelas, karena perhatian tertumpu pada perahu sendiri.

Sungai Cimanuk

Tiba-tiba beberapa hole yang lumayan besar telah menyambut di depan mata, dan dayung pun terus bergerak maju. Seakan-akan gelombang hendak menelan seluruh awak.

Di muka terlihat kembali jeram berikutnya, dayung pun digerakkan mengarah main current. Sekaligus agar lebih memudahkan manuver perahu saat menghadapi jeram ini. Arus terus membawa ke arah hilir, dan di sebelah kiri terlihat batu besar yang menyembul. Tiba-tiba saja dihadapan sudah ada hole, …buss……perahu pun masuk dan lidah air tepat mengenai semua awak. Aba-aba untuk mengambil sebelah kanan terdengar seolah-olah hendak mengalahkan suara gemuruh air. Standing waves yang lumayan besar telah menyambut di muka. Namun tidak mencapai highstack, ngeri juga bilamana terjadi hingga perahu akan terbalik.

Tebing-tebing dengan latar belakang awan putih sedikit kebiru-biruan menjadikan hiburan tersendiri. Kurang lebih 50 m dari sana, jeram berikutnya telah menyambut kembali. Golakan arus dirasakan kembali hingga gelombang hidrolik membuat perahu terbang. Dan tiba-tiba perahu tersangkut batu, spontan para awak mundur ke belakang dan segera menarik tali tengah. Alhamdulillah, akhirnya perahu dapat bergerak kembali.

Sesekali terdengar teriakan-teriakan antara menikmati dan kecut hati bercampur menjadi satu. “Wow……wow,” sambil terus mendayung. Perahu kuning yang ditumpangi penulis mulai terasa kurang stabil, dan mau tidak mau harus menepikan dahulu untuk mencek kondisi. Benar saja klep di alas perahu bocor, untuk menyiasatinya harus ditampal dan dipompa.

Jeram 12 memiliki hole-hole yang lumayan panjang, selain itu tingginya lumayan juga. Hingga saat melewati, cara mendayung bukan lagi ke bawah namun ke samping atas.

Setelah melalui salah satu jeram, perahu pun sudah mengarah pada hole dan siap-siap untuk terombang-ambing pusaran arus. Dan ……syt……perahu masuk ke dalam hole besar.

Pada jeram 14, standing waves dan pillow sesekali terlihat di kiri perahu. Tanpa diperkirakan, gelombang hidrolik sudah berada di ujung perahu. Sontak semua harus mendayung maju mengikuti aba-aba sang kapten.

Pukul 13.25, akhirnya acara yang ditunggu-tunggu datang juga, yaitu, makan siang. Letaknya sendiri di dekat kebun penduduk yang memanfaatkan bibir sungai, dan jika melongok ke belakang akan terlihat bayangan Gunung Haruman yang tersaput awan putih. Disaat makan siang dimanfaatkan pula untuk pendataan yang akhirnya jeram ini dinamakan jeram Lunch.

Pada jeram 23, pergerakan tim harus mengeluarkan tenaga ekstra kuat, karena arusnya lumayan kuat dan beberapa hole gede harus dilalui. Dayung pun terus dipacu dan cipratan-cipratan air terus mengenai wajah.

Karena keterbatasan waktu, pendataan sungai dicukupkan meskipun demikian penghitungan jumlah jeram yang dilalui tetap dihitung. Pada jeram 33, tim menemui jeram terpanjang plus hole-hole besar. Lumayan juga membuat keblingsatan para awak perahu.

Setelah melewati jeram yang merangsang adrenalin, arus mulai bersahabat. Selain itu, bentukan di pinggir sungai mulai landai, dan terlihat umpak-umpak sawah milik penduduk. Tidak lama kemudian terlihat Jembatan Limbangan yang berarti operasi Sungai Cimanuk Etape 2 telah usai.

Dari kejauhan hanya terdengar riak-riak sungai tenang bercampur bunyi jangkrik, saat hendak meninggalkan lokasi menuju kehidupan kota yang penuh kebisingan.

Operasi Pendataan dan Pengarungan Sungai Cimanuk ini dilakukan pada 5-7 Februari 1999

Riza Fahriza
Angsana, Edisi I/Tahun III/Mei 1999

Tulisan ini tayang di Koran Bandung Pos tahun 1999 dengan judul “Dayung toet…toet di Cimanuk”