Day to Day Pemanjatan Tebing Bukit Daya 1997

 

942560_10201337824478106_753598661_nby Mas Oktavian PD

Kabut asap tebal kembali setia menemani saat tim panjat tebing  setelah sehari sebelumnya sempat menghilang akibat hujan.  Seolah awan tipis akibat pembukaan ladang itu berkata “hai aku datang kembali”. Semakin dekat ke tebing itu hati mereka semakin berdebar dengan keras. Pandangan mata setiap anggota tim seakan tak bisa lepas dan terpesona pada bukit-bukit batu itu. Ada semacam daya magnet tersendiri yang menarik mereka untuk secepatnya merangkul batuan-batuan hitamnya. Tebing yang ada dihadapan mereka sekarang jauh lebih dahsyat dari foto-foto Batu Daya yang selama ini dibayangkan dari foto-foto yang dilihat.

Tak ingin membuang waktu terlalu lama Mas dan Eris segera memasang tenda dan hammock untuk persiapan istirahat, mempersiapkan peralatan yang akan dipakai untuk pemanjatan dan mempersiapkan hidangan untuk jamuan makan bersama. Sementara itu Bonk dan Rahwa melakukan pengamatan dititik mana mereka akan memulai pemanjatan esok hari. Malam itu mereka berempat melakukan diskusi perencanaan untuk kegiatan pemanjatan yang akan dilakukan dan kemudian beristirahat

 

Hari pertama

Keesokan paginya Bonk selaku ketua tim kembali melakukan pengamatan untuk titik yang akan dipanjat. Karena terbatasnya jarak pandang maka diputuskanlah tempat tertinggi dari daerah sekitar basecamp untuk menjadi entry point dari pemanjatan. Hampir tidak mungkin tim melakukan mapping jalur pemanjatan akibat kabut asap yang tebal, sehingga akhirnya yang menjadi fokus adalah bagaimana meminimalkan penggunaan mata bor karena terbatasnya mata bor yang dibawa. Bonk dan Eris mendapat giliran pertama untuk pemanjatan sedangkan Mas dan Rahwa mendapat giliran berikutnya.

Formasi tim nanti akan dilakukan secara bergantian masing-masing satu pasang. Dengan tim yang berjumlah sedikit diharapkan pemanjatan dapat dilakukan dengan cepat, prinsipnya setelah didapat titik penambatan maka tim yang kedua akan melakukan penaikan barang sedangkan tim yang lain lagi kembali meneruskan pemanjatan ketitik yang lebih tinggi. Hari pertama dua titik penambatan (pitch) berhasil ditempuh dan diputuskan untuk bermalam di tempat tim bermalam sebelumnya.

 

Hari kedua

Esok harinya giliran Bonk dan Rahwa melakukan pemanjatan sedangkan Mas dan Eris bertugas untuk melakukan pengangkutan barang ke atas. Sebagian barang disimpan di bawah, hanya peralatan pemanjatan, bahan makanan dan alat tidur yang akan dibawa keatas. Membawa barang dimedan miring ternyata tidak semudah yang dibayangkan, faktor utama yang menyulitkan adalah posisi barang yang tidak menggantung melainkan menempel ke dinding. Kerap barang  menyangkut di antara bebatuan atau semak, akhirnya diputuskan ada personil yang mendampingi barang keatas. Pemanjatan hari kedua berhasil melakukan dua titik penanambatan keatas. Malam itu mereka mulai tidur di titik penambatan ke dua. Disitu ada ada teras kecil yang cukup untuk mereka berempat.

Teras itu di lindungi oleh semacam gundukan batu. Lagi-lagi Mas merasakan pertama kalinya tidur dengan kondisi badan terkait dengan pengaman yang dipasang atau lebih dikenal dengan istilah buntut sapi (cows tail). Sungguh pengalaman yang luar biasa selama hidupnya. Dua tali sepanjang titik penambatan terpasang diatas kita dan satu tali pendek dipasang kebawah sebagai tempat buang air besar. Menu makanan yang dipersiapkan sebelumnya mulai dibuka, pertama kali dalam hidupnya makan malam dengan sajian keju dan kacang mete ditambah campuran energen dan susu.

“Bener-bener mau muntah..,” keluh Mas hanya dalam hati.

Eris dan Rahwa sama pun kelihatannya merasakan hal yng sama. Mereka bertiga dengan saling berpandangan melahap hidangan malam sedikit-sedikit sementara Bonk dengan santai menikmati hidangan malam seperti itu. Hal yang dirasakannya merupakan salah satu faktor yang paling berat dari pemanjatan ini adalah mengenai makanan. Seperti sebagian besar orang Indonesia, ia pun merasa bahwa makanan pokoknya adalah nasi.Ada pepatah bahwa sebelum makan nasi belum dikatakan sudah makan dan rasa lapar pasti akan selalu menghantui. Namun apa boleh buat, karena pertimbangan waktu dan lokasi yang vertical maka memasak nasi adalah sesuatu yang ribet. Membutuhkan waktu yang   cukup lama untuk menanak nasi, sehingga harus ada suatu metoda yang simple  mengenai makanan selama pemanjatan.

Perbekalan makanan yang dibawa selama pemanjatan dibagi menjadi tiga bagian : makan pagi, makan siang dan makan malam. Menu makan pagi dilakukan dengan cukup  memanaskan air selama kurang dari 10 menit untuk indomie atau sereal dan kopi atau susu ditambah dengan roti atau biscuit. Menu makan siang cukup dengan biscuit dan roti sedangkan untuk makan malam cukup dengan memanaskan air selama kurang dari 10 menit untuk indomie atau sereal dan kopi atau susu ditambah dengan keju dan kacang mete. Sudah terbayang didalam benaknya betapa eneknya menu makanan selama pemanjatan.

Kondisi malam itu cukup membuat mereka bersyukur karena tidak turun hujan. Terbayang oleh Mas jikalau terjadi hujan kondisi tidur malam bisa keganggu walaupun kita sudah membekali peratalan fly sheet. Malam ketika ia terkantuk-kantuk dalam tidurnya seringkali terdengar desingan suara batu yang dilemparkan dari atas. Sampai saat selesai pemanjatan ia masih tidak habis pikir siapa yang seringkali melempar batu dari atas itu. Mungkin itu monyet yang melemparm demikian saja  positif thinking nya.

 

Hari ketiga

Besok paginya, suasana langit dia atas cerah menyapa tim, seperti hari sebelumnya kicauan burung yang terbang diatas dan suara desing mesin pemotong kayu tetap setia menemani mwereka. Giliran Mas yang menjadi leader dalam pemanjatan dengna belayer Bonk. Sementara Eris dan Rahwa mendapat jatah giliran berikutnya. Sambil menaiki tali (ascending) menggunakan 2 buah ascender ia mulai menaiki tali yang telah terpasang sebelumnya. Setelah 10 meter Mas menaiki tali, terkejut bukan main hatinya melihat tali yang dinaiki kondisinya terluka, hampir setengahnya robek.

Hatinya sempat berdesir, terbayang olehnya jikalau tali tersebut sempat putus apa yang terjadi. Hampir dapat dipastikan ia akan jatuh bebas ke bawah tak tertolong lagi. Cepat-cepat Mas memindahkan posisi ascender  ke atas luka robek tali yang dinaiki.

“Alhamdulillah, Alloh masih mengijinkan aku hidup lebih lama lagi,” gumamnya.

Tak lupa Mas membuat simpul di daerah tali yang robek tersebut. Ia mengabari tim yang ada dibawah dan selanjutnya memasangkan tali cadangan untuk menggantikan tali yang robek tersebut. Satutitik tambat berhasil ia amankan dalam pemanjatan ini. Setelah itu giliran Eris yang akan meneruskan pemanjatan sementara Mas dan Rahwa berada di teras. Medan yang akan dilalui Eris sebagian adalah ilalang.

Ada yang unik dari teman seangkatannya ini, dia terkenal dengan keberaniannya dalam melakukan kegiatan alam bebas, karakter dingin begitulah banyak teman-temannya menyebutnya. Satu titik tambatan berhasil dilakukan oleh Eris dan Bonk hari itu. Malam itu mereka tidur di teras malam sebelumnya. Seperti biasa hal yang paling membuatnya malas adalah pada saat jam makam malam, terbayang kembali eneknya makanan yang akan dinikmati, antara lain keju plus segenggam kacang mede yang sudah dipersiapkan dalam bentuk hari per hari dan terbagi dalam empat bungkus untuk masing-masing personil. Dengan sedikit malas ia menghabiskan menu makan malam itu. Malam mereka habiskan dengan mengobrol kesana-kemari, terutama tentang wanita. Ada istilah Bangkok betawi, si jack dan rupa-rupa. Hehehe..

 

Hari keempat

Besok pagi kembali si dingin Eris yang menjadi leader ditemani Rahwa sebagai belayer. Medan termasuk kategori susah, bor to bor menjadi solusi kali ini. Dikarenakan perlu power yang cukup besar maka Rahwa ganti menjadi leader menggantikan si dingin.  Sekitar 20 meter medan seperti ini, kemudian Bonk memerintahkan untuk melakukan pendulum (bergerak seperti bandul jam dinding). Disebelah kiri leader terpangpang crack yang bisa dipasang alat-alat artificial selain bor. Kembali si dingin menunjukan kebolehannya, sambil bergelantungan berlari dari kiri kekanan dan akhirnya sampai juga. Beberapa meter diatas tertambatlah titik tambat berikutnya. Malam itu mereka kembali tidur diteras.

“Anjing..anjing…anjing..!” begitulah umpatan yang dikeluarkan Rahwa ketika menarik beban barang-barang untuk diangkut keatas.

Kurang lebih ke lima titik tambat hari ini barang akan di naikan ke atas. Memang terasa berat sekali pengakutan barang pada hari itu, sehingga hampir seharian mereka menaikkan barang. Beratnya barang bawaan ditambah lagi dengan kondisi tebing yang berwarna hitam legam yang menyerap panas, terasa lengkaplah penderitaan mereka hari itu. Saking aralnya hampir setiap kebagian menaikkan barang setiap personal tim menumpahkan umpatannya. Yang menarik adalah umpatan Bonk.

“Mother fucker, shit,..” semuanya dilontarkan dalam bahasa Inggris. Ha.ha.h.a.ha. ingin tertawa sebenarnya Mas tapi ia urungkan takut kena push up seniornya itu.

Hari itu penaikan semua barang selesai dilakukan bada ashar. Niatnya sih mau melanjutkan pemanjatan karena masih ada waktu sampai sebelum waktu magrib. Tapi akibat kecapean akhirnya setelah tidur-tiduran akhirnya ketiduran beneran hingga lewat magrib. Seperti hari-hari sebelumnya kembali hidangan makan malam mau tidak mau harus dihabiskan Mas yaitu keju plus kacang mete. Itulah teman sejati mereka selama pemanjatan, anehnya tidak kentara sekali pengalihan dari nasi terhadap keju direlasikan terhadap perut. Mungkin kebutuhan kalori tercukupi sehingga cacing-cacing didalam perut adem ayem saja begitu pikirnya. Bau badan yang lumayan menyengat dari masing-masing personil menjadi teman setia selama pemanjatan. Maklum saja sudah beberapa hari ini mereka tidak mandi, jangankan untuk mandi untuk sekedar buang air kecil dan buang air besar saja ngegantung diatas tali.  Life on a line.

 

Hari kelima

“Mother fucker, dammed, shit..” kembali Bonk mengeluarkan umpatannya ketika lebih dari satu jam dia coba melakukan pengeboran tetapi hasilnya nihil.

Batuan agak sedikit rapuh ada dihadapan kami. Bonk pun mengusulkan agar Mas mencoba melakukan pemanjatan dimana ada sejulur kayu yang melintang dan mendoyong ke bawah diatas mereka tapi dengan resiko harus dilompati. Rasio berfikirnya mengatakan andai ia tidak berhasil menggapai dahan tersebut maka beberapa meter ia akan mendapakan free fall. Kontan Mas mengakui tidak berani melakukannya dan mengusulkan agar Eris saja yang melakukannya. Dengan keberanian dan kedinginannya Eris akan bisa melakukannya, begitu yang ada di pikiran Mas saat itu.

Ia pun turun kebawah untuk digantikan oleh Eris. Benar saja tanpa kesulitan Eris dapat melewati tahapan pemanjatan yang dianggap sulit olehnya, beberapa puluh meter keatas diselesaikan olehnya tanpa ada suatu kesulitan hingga titik penambatan berikutnya. Giliran berikutnya Rahwa yang melakukan leading pemanjatan.

Disinilah terjadi titik balik dalam pemanjatan tebing ini dimana agak salah maksud sepertinya Rahwa dalam menangkap pesan dari Bonk. Ia melakukan bor to bor sampai sepuluh bor dia habiskan, padahal maksud Bonk dipanjat saja agak memipir ke sebelah kiri atau kanan karena tak lebih dari 15 meter diatas mereka medan terjal berupa dinding lurus (face) sudah menanti. Di medan lurus itu peralatan artificial yang kita bawa akan terpakai semua, begitu maksud Bonk. Ketika Bonk  mendekati kami berdua, dia hanya geleng-geleng kepala karena bor yang tersia hanya cukup untuk descending dan simpanan buat rescue. Akhirnya Bonk memerintahkan untuk turun dan titik itulah titik teratas kami dalam pemanjatan di Batu Daya.

 

Dengan berat hati mereka kembali ke shelter kedua tempat tim menginap semalam. Pemanjatan kami clean sampai shelter . Malam itu adalah malam terakhir mereka tidur sambil menggantung dengan tali. Malam itu lebih banyak dihabiskan dengan obrolan ringan kesana-kemari dari mereka berempat dengan ditemani oleh besi-besi yang dengan setia menemani kami selama perjalanan. Sentuhan angin malam itu seolah mengucap salam perpisahan ke pada kami.

“Terima kasih Batu Unta atas kenangan perjalanan selama ini, suatu saat kami  pasti kan kembali,” begitu  ucap Mas dalam hati. Tak lama kemudian ia pun terlelap.