Hymne Unpad

iwan-abdulrachmanSebuah komunitas akan tumbuh besar jika orang-orang tua menanam bibit-bibit pohon meski tahu mereka tak akan pernah duduk di bawah kerindangannya

Lagu yang paling sakral dinyanyikan di aula universitas barangkali adalah lagu hymne. Sepanjang yang saya ingat hanya lagu hymne dan Guideamus   yang sempat saya dengarkan -dengan perasaan yang datar- saat diterima sebagai  mahasiswa baru. Berada dalam aula yang sesak karena terlalu banyak mahasiswa saya berusaha secepatnya menyelinap keluar.

 

Pada momen-momen yang berulang pun saya lebih senang nongkrong saja di luar sambil ngobrol. Hingga beberapa tahun setelah menginjak dunia mahasiswa saya tetap  tak hapal lagunya apalagi syairnya. Seperti juga mahasiswa lain lebih hapal lagu Kangen dari Dewa 19  yang populer kala itu.

 

Kaset Iwan Abdulrahman

Kerap melakukan perjalanan ke tempat terpencil, tak banyak hiburan kecuali kaset dan tape yang dibawa. Untuk menemani kesunyian di berbagai tempat terpencil itu kaset yang dibawapun diputar berulang-ulang hingga pitanya keriting. Saya mulai menyimak lagu hymne karena ia berada diantara lagu-lagu Iwan Abdulrahman seperti Melati dari Jayagiri dan Sejuta Kabut. Barulah saya perlahan memaknai lagunya saat berada diantara kesunyian yang mengawang di antara kelebatan hutan. Lagu dari kaset kerap tetap mengalun hingga orang terakhir dalam tenda dome mematikan tape untuk tidur dan masuk ke dalam  sleeping bag-nya.

Yang paling awal terbayang saat mulai menyimak lagu pujaan itu adalah kecintaan yang sangat dari sang pencipta lagu kepada almamaternya. Terbersit harapan insan-insan muda untuk membina diri di lingkungan universitas hingga kelak dapat berguna bagi bangsanya. Kemudian saya memaknai ikatan emosional antara mahasiswa dengan para pimpinan universitas. Ada rasa hormat terhadap pimpinan, ada rasa sayang kepada mahasiswa. Hymne ini diciptakan oleh Iwan Abdulrahman di sebuah gunung bersama teman-temannya sebelum saya lahir. Setahun kemudian saat sang rektor meninggal, jenazahnya disemayamkan di aula kampus. Seluruh mahasiswa dan warga universitas yang hadir menyanyikan lagu hymne dengan penuh berlinang airmata.

 

Bukan sekedar belajar

Bagi saya kampus menjadi lebih dari sekedar tempat belajar. Bahkan kadangkala saya mengesampingkan tugas belajar itu demi mengejar atmosfir petualangan. Suasana persahabatan bersama para sejawat membuat saya hanyut dalam dinamika petualangan di kampus, seperti buih-buih di sungai yang mengikuti saja hendak  dibawa kemana oleh arus. Tak heran bila kami betah berlama-lama di kampus walau tak ada kuliah, bahkan kampus menjadi rumah kedua tempat saya sering menginap disana.

Dari sering berada di kampus saya jadi mengenal kehidupan di luar kelas-kelas kuliah. Seusai jam kuliah saya kerap bertemu dengan mahasiswa berbagai jurusan yang berbeda hobby dan idealisme di sekitar koridor unit-unit kegiatan mahasiswa. Bedanya mereka berlatih pada waktu-waktu tertentu dalam seminggu sementara saya hampir setiap hari berada disana bahkan hari libur  sekalipun.

Saya mulai mengenal sejumlah penjaja makanan dari tukang baso, bajigur dan tukang kue yang sering berkeliling fakultas. Para tukang kue itu akan sangat sibuk bila sedang ada razia yang kadang langsung dilakukan oleh petinggi rektorat. Bila demikian kami akan membantu menyembunyikan tempat-tempat makanannya ke dalam ruangan tempat kami nongkrong. Disitu satpam takkan menggeladahnya sehingga dagangan mereka akan aman.

Salah satu penjaja kue yang paling senior sering dipanggil si Bram  sempat kami berkunjung dan menonton wayang ke kampungnya di Subang. Ternyata disana ia merupakan salah satu tokoh desa.  Pulangnya kami membawa seabrek “hasil bumi” dari kampungnya. Orang-orang kecil di seputar kampus mewarnai keseharian saya saat menjadi mahasiswa. Tukang parkir, satpam, penjaga gedung dan  warung-warung sekitar kampus menemani upaya saya mengumpulkan sedikit demi sedikit IPK untuk lulus. Di malam yang melarut hanya beberapa warung saja yang buka dan tetap melayani dengan mata yang setengah tertidur

 

Menjaga panji kehormatan

Selain suasana mengharu biru di arena petualangan, pertemanan dengan beragam orang dan mahasiswa berbagai jurusan membuat saya tak mudah melupakan  kampus. Kuliah bukan saja yang membawa saya pergi ke kampus namun lebih banyak hal-hal lainnya. Bila tak enak badan lebih baik diperiksa dan minta obat ke poliklinik daripada ke dokter yang mahal. Saya tinggal menunjukkan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) ke petugas poliklinik, yang kadang mengernyitkan dahi melihat tahun keluaran KTM yang disodorkan.

“Memangnya belum lulus ?”  tanyanya curiga.

Tentu saja saya bukan mahasiswa terbaik yang dapat dibanggakan almamater. Hingga lulus saya tak pernah punya kartu perpustakan apalagi prestasi akademis yang gemerlap, dan saat luluspun standar-standar saja. Itu  pun setelah masa kuliah yang diperbolehkan sudah hampir berakhir.  Mungkin memang tak ada yang perlu dibanggakan dari prestasi akademis saya.

Namun sebuah bendera kuning berlambang almamater selalu kami jaga dengan penuh kebanggaan. Saya menyaksikan para sejawat yang jatuh bangun dan mata yang berkaca-kaca menahan rasa sakit –atau rasa haru- demi mengawal bendera. Satu persatu mereka roboh  didera malaria, thypus, muntaber dan berbagai penyakit yang menyerang di arena petualangan. Namun rasanya hingga kini kami belum pernah gagal menjaga panji-panji kehormatan itu walau harus  bertumbangan satu persatu. Akan selalu ada rekan di samping yang melanjutkan.

Kain kuning berlambang civitas academika itu kami kibarkan dengan gagahnya hingga ke titik tertinggi yang dapat kami capai, mengesampingkan  berbagai resiko yang tak akan pernah ada di perpustakaan dan ruang kuliah. Kami membawanya hingga ke Himalaya dan berbagai pegunungan benua, serta mengibarkan bendera kuning itu dalam setiap udara yang mengigit di puncak pegunungan.

Apakah pihak universitas mencintai kami seperti kami mencintainya? Barangkali  hal itu tak penting. Kami tak pernah mengharapkan apapun, cukup rasa syukur dapat menjadi bagian dari keluarga besar ini. Cukuplah universitas tahu bahwa kami mencintai almamater sama seperti cinta yang membuat Abah Iwan, sang pencipta hymne, menciptakan lagu pujaan yang luar biasa itu. Sejenak saya merasa berada di sebuah ketinggian gunung puluhan tahun silam, melihat Iwan Abdulrahman muda memainkan dawai gitar mencoba membuat lagu untuk almamaternya.