Krisis Identitas Warga Tangsel

Kota Tangerang Selatan terbentuk sebagai dampak dari perkembangan Kota Jakarta yang sedemikian pesatnya sehingga mengundang banyak orang untuk datang ke Ibu Kota. Dengan kondisi demikian jelaslah bahwa Kota Tangerang Selatan berfungsi sebagai sebuah kota penyangga yang berada dalam pengaruh kota metropolitan Jakarta. Jadi, apa pun yang terjadi di Jakarta akan ikut mewarnai situasi dan kondisi di Tangsel.

Sebagian orang yang tinggal di wilayah Tangsel, bahkan sebelum kota ini menjadi wilayah kota tersendiri, orang Tangerang Selatan jarang yang mengidentifikasi dirinya sebagai orang Tangsel.

Bagian masyarakat yang lain, terlepas pendatang maupun lokal, barangkali pengaruh etnis sudah nyaris hilang sehingga melihat dirinya menjadi bagian dari identitas nasional atau superkultur Indonesia.

Ada juga sebagian masyarakat yang bahkan lebih mengidentifikasikan pada karakter subkultur kelompok sosial tertentu, yang biasanya lebih mengacu pada tingkat sosial ekonomi yang bersangkutan. Jadi, jangan heran kalau penduduk Tangsel umumnya akan menjawab lokasi permukiman atau daerah tempat tinggalnya bila ada pertanyaan terkait identitas siapa mereka, misalnya: “orang BSD”, “orang Alsut” (Alam Sutera), “orang Bintaro” bagi yang rumahnya di permukiman pengembang, atau “orang Ciputat”, “orang Serpong’, “orang Setu”, dan seterusnya.

 

Lantas, apa urgensi dan pentingnya perkara identitas sosial-budaya ini menjadi perhatian? Identitas dan jati diri bagi individu, terlebih sebuah komunitas, penting serta bernilai strategis. Ia bermakna sebagai media integrasi komunitas, juga sebagai sarana memproyeksikan perjalanan komunitas ke arah yang lebih bagus, baik hari ini maupun hari depan. Identitas budaya melahirkan sense of belonging, sense of pride dan sense of obligation (Dienaputra).

Dalam lambang Kota Tangerang Selatan ada moto yang merupakan cita-cita dan harapan untuk mewujudkan masyarakat yang: Cerdas, Modern, Religius. Kiranya ini juga harus menjadi nilai-nilai yang tercermin dalam setiap derap langkah pembangunan Kota Tangsel.

Semoga  Pemerintah kota Tangsel yerus menggali sejarah dan peninggalan budaya materil maupun adat dan tradisi kebudayaan berbagai kelompok etnis yang ada, memformulasi dan memproyeksikannya sehingga tercermin dalam program pembangunan.

Tidak lupa pula menyosialisasikan kekayaan sejarah dan budaya tersebut terutama pada generasi muda sehingga dapat mewujudkan identitas kota yang bisa menjadi kebanggaan masyarakat sehingga penduduk Tangsel tidak lagi ragu menyebut dirinya: “Saya orang Tangsel”.

 

Luthfi Rantaprasaja

Dosen & aktivis sosial lingkungan

Anggota Majelis Pertimbangan IKA Antropologi Universitas Padjadjaran (Unpad)

 

Disadur dari tulisan “Urgensi Membangun Identitas Kultural Warga Kota Tangsel” tayang di Antara 20/10/2022