Quo Vadis Kebencanaan IKA Unpad

Selama kurun waktu kurang lebih sebulan IKA Unpad melalui Bidang Tanggap Bencana telah melakukan quick respond dalam bencana banjir bandang Sumatera. Pada hari Rabu, 14 Januari 2026 di Sekretariat IKA Unpad Jakarta dilaksanakan evaluasi kegiatan yang telah berjalan. Dibuka oleh Sekretaris Jenderal IKA Unpad, Yodhisman Soratha (Kang Odis) rakor kebencanaan ini juga diharapkan menjadi  diskusi berlanjut menuju penguatan peran IKA Unpad dalam respons kebencanaan kedepan.

Alumni FIB Tatan Agus RST (GS) sebagai sesepuh dalam giat kebencanaan diundang menjadi narasumber. Dalam kesempatan ini, hadir alumni dari berbagai elemen yang kerap berkiprah dalam giat kebencanaan kampus. Dari alumni Palawa Unpad hadir Ario (SH) dan Bano (CL).

Dalam uraiannya, kang Tatan menilai UNPAD dinilai memiliki potensi besar namun belum terorganisir dalam satu bendera kebencanaan. Ia melihat pentingnya satu wadah kebencanaan agar tidak bekerja sendiri-sendiri serta perlunya roadmap pra, saat, dan pascabencana.

Pemilihan tim tidak berdasarkan ‘like’ and ‘dislike’, bukan pula hanya kedekatan atau teman. Tapi harus merangkul tim
yang argumentatif, artinya memilki semangat dan visi yang sama menjalankan misi kemanusian dalam satu naungan Ikatan Alumni Unpad. Demi mewujudkannya perlu membuat suatu tim perumus, mungkin akan ada diskusi yang panjang, tapi itu tidak apa-apa sebagai sebuah tahapan yang harus dilalui.

Sebagai perbandingan Tatan mengulas keterlibatannya dalam quick respond bersama IPB University. ARM IPB berbentuk yayasan berbadan hukum dan menjadi satu wajah resmi IPB dalam kegiatan kebencanaan.

Singkatnya, jelas Tatan, ARM memiliki mandat otonom dari IKA IPB namun tetap bertanggung jawab kepada induk organisasi. Relawan bersifat sukarela tanpa honorarium, namun kebutuhan pendukung operasional difasilitasi.

Kemudian Tatan menekankan beberapa point:
• Pentingnya pemetaan kebutuhan (assessment) sebelum turun ke
lokasi bencana.
• Dokumentasi kemanusiaan tidak hanya bersifat visual, namun
juga naratif dan empatik (5W+1H).
• Keselamatan relawan menjadi prinsip utama dalam setiap
penugasan.
• Perlu adanya workshop rutin untuk penguatan kapasitas
relawan.

Menutup penuturannya, Tatan tidak lupa mengingatkan tidak berarti sistem seperti ARM IPB juga sesuai dengan atmosfer IKA Unpad. Diskusi-diskusi panjang nanti yang akan menentukan ke arah bentuk yang diinginkan.