Dari Si Donat Orange ke Hojo

207850_1015794527918_7678_nWhat makes a river so restful to people is that it doesn’t have any doubt – it is sure to get where it is going, and it doesn’t want to go anywhere else  – Hal Boyle

 

Terdapat ikatan emosi yang kuat antara para rafter dengan perahu yang ditumpanginya, seperti yang akan drasakan pada kendaraan kesayangan anda.  Seorang rafter yang hanya menikmati permainan jeram saja tanpa ingin memelihara perahu dan peralatannya  bukanlah seorang pecinta sejati.  Maka di awal  tahun 90-an itu para start-up rafting di PLW mengenal benar setiap lubang yang ada di perahu LCR warna orange  yang sering disebut Si Donat, Avon Dek dan sebuah landing craft raksasa yang disebut Si Mammoth.

Ketiga perahu itulah dulu yang tersedia kala mulai menggeluti arung jeram dimana si Donat Orange paling sering turun ke sungai karena memang terbilang paling sehat dibanding yang lain. Sementara Avon Dek hanya layak untuk turun di Citarum dan air tenang. Si Mammoth lebih parah lagi, setelah beberapa kali dicoba diperbaiki  tak kunjung membaik.

Kala itu ada tiga obsesi kami dalam menekuni arung jeram yaitu memiliki perahu selfbailing, mengikuti Kejuaraan Nasional atau ekspedisi ke sungai besar. Kala mengikuti Kejurnas di sungai Ayung 1994, dan melihat berderet-deret perahu selfbailing merek Momentum, rasanya hati ini panas untuk segera memiliki perahu serupa.

 

Generasi self bailing

Di akhir umur petualangan kami di kampus akhirnya didapatlah sebuah perahu selfbailing dengan merek Tigershark yang didamba itu. Sebagian merasakan rasa haru yang aneh mengingat perjuangan lima tahun untuk mendapatkannya akhirnya berbuah juga. Dengan penuh rasa sayang saya membelai  tiap lekuk boeing-nya dan teringat teman-teman Pendidikan Spesialisasi ORAD yang sebagian telah surut berkegiatan karena telah lulus. Pasti mereka bangga bahwa kami kini sudah memiliki sebuah TigerShark.

Namun saya pun tak sempat merasakan sensasi perahu itu karena mulai menjauh dari kehidupan kampus, hanya sekali saja sempat merasakan manuver lincahnya saat melatih para junior di Citarum. Generasi TigerShark  akan meneruskan sepak terjang kami di kegiatan arung jeram. Setelah TigerShark kemudian armada perahu karet di kampus semakin bertambah dengan masuknya Base Marine dan Si Rahong. Tentu saja kini semuanya sudah merupakan era selfbailing, tak seperti dulu yang harus menyiapkan ember di perahu untuk menimba air.

Berturut-turut kemudian TigerShark dan Base Marine memasuki usia pensiun, namun darah segar arung jeram terjaga dengan masuknya perahu Zebec buatan Korea. Lalu yang terakhir masuk menjadi anggota paling bungsu adalah Hojo yang juga buatan Korea. Demikianlah, generasi PS ORAD tak sempat larut di keliaran arus sungai karena telah estafet kepada generasi TigerShark, Base Marine, si Rahong  hingga Zebec.  Namun memulai idealisme dari nol, itulah yang membuat rasa kebanggaan dan kebersamaan itu tak pernah lekang.