September 2018. Delapan tahun lalu di Lombok Utara, gempa bumi tak hanya merubuhkan bangunan, tapi juga memutus urat nadi kehidupan: jaringan pipa air bersih dari gunung.
Ember-ember dan baskom plastik berderet di tepi jalan. Di balik itu, tatapan lelah warga desa menatap lurus ke ujung jalan—menunggu raungan mesin mobil tangki membawa beberapa liter air bersih.
Pemandangan di masa darurat pascabencana itu selalu menyisakan tanya: Sampai kapan warga harus menggantungkan hidupnya pada kedatangan tangki?
Bantuan air tangki memang datang, tapi sifatnya sementara. Bantuan itu menempatkan warga dalam posisi menunggu dan bergantung. Beberapa kilometer di atas sana, melintasi tebing dan hutan rapat Rinjani, mata air itu sebenarnya masih terus mengalir. Yang rusak bukan jalannya air, melainkan infrastrukturnya yang dihantam longsor.
Melihat antrean ember di tepi jalan itu, Palawa Unpad tergerak. Kami sadar, recovery darurat bukan sebatas membagikan pasokan instan di hilir, tapi memulihkan kedaulatan warga atas hak dasarnya. Kami memilih naik ke hulu.
Bersama warga Desa Senaru, pipa-pipa putih mulai dipikul melintasi lereng curam Rinjani. Tak ada alat berat, yang ada hanya otot, keringat, dan tali-temali. Kami menembus hutan, melangkahi batang-batang pohon besar yang tumbang, serta merayap di tebing guram bekas longsoran gempa.
Setiap batang pipa yang disambung bukan sekedar mengalirkan air, melainkan merangkai kembali kemandirian warga yang sempat patah dihantam bencana. Gotong royong di tengah hutan itu menegaskan satu hal: masyarakat lokal bukanlah ‘korban’ yang pasif, melainkan aktor utama dalam memulihkan tanah lahirnya sendiri.
Hari itu, air akhirnya kembali mengalir ke pemukiman. Bukan dari selang truk tangki, melainkan langsung dari jantung Rinjani—diantar oleh pipa-pipa yang digotong bersama.
Delapan tahun telah berlalu sejak September 2018. Namun ingatan tentang peluh di lereng Rinjani dan pelajaran tentang kedaulatan air itu akan terus mengalir.
Penulis: Faiq Dhiya Ulhaq










