Ada sebuah paradoks dalam organisasi kebencanaan: organisasi yang secara formal dibentuk untuk menghadapi bencana belum tentu menjadi organisasi yang paling cepat bergerak ketika bencana terjadi. Sebaliknya, organisasi yang tidak pernah dirancang sebagai lembaga kebencanaan dapat memiliki kemampuan respons yang tinggi.
Mapala adalah salah satu fenomena tersebut.
PALAWA UNPAD, misalnya, secara formal merupakan organisasi mahasiswa pecinta alam, bukan lembaga SAR atau organisasi kemanusiaan. Identitasnya dibentuk oleh gunung, sungai, gua, tebing, ekspedisi, dan kehidupan lapangan. Namun, pengalaman tersebut secara tidak langsung membentuk kemampuan yang kemudian sangat berguna ketika menghadapi bencana.
Pertanyaan utama buku ini bukan sekadar mengapa PALAWA turun ketika terjadi bencana, tetapi:
Bagaimana sebuah organisasi yang tidak dilahirkan sebagai organisasi kebencanaan dapat memiliki kapabilitas respons yang besar?
1. Medan petualangan sebagai sekolah kapabilitas
Petualangan tidak hanya menghasilkan pengalaman, tetapi membentuk manusia.
Dalam ekspedisi, anggota menghadapi ketidakpastian, risiko, medan yang berubah, keterbatasan informasi dan logistik, serta kebutuhan untuk mengambil keputusan tanpa menunggu kondisi ideal.
Pengalaman berulang tersebut dapat membentuk:
- kemampuan membaca medan;
- navigasi;
- pengelolaan risiko;
- pengambilan keputusan;
- kerja tim dan kepemimpinan;
- improvisasi;
- ketahanan terhadap ketidaknyamanan;
- kemampuan bekerja dengan sumber daya terbatas.
Kemampuan itu awalnya tidak dibangun untuk menghadapi bencana. Namun karakter bencana memiliki banyak kesamaan: informasi terbatas, medan berubah, akses sulit, kebutuhan mendesak, dan sumber daya yang tidak selalu tersedia.
Karena itu, dapat diajukan hipotesis:
Bencana tidak menciptakan insting lapangan PALAWA. Bencana mengaktifkan insting yang telah dibentuk oleh medan petualangan.
Petualangan menjadi proses encoding kemampuan, sedangkan bencana menjadi medan untuk mengaktifkannya.
2. Dari capability yang lahir menjadi capability yang dibangun
Pada tahap awal, kemampuan tersebut bersifat laten:
Petualangan → pengalaman → kompetensi → kapabilitas laten.
Ketika bencana datang:
Bencana → mobilisasi → penggunaan kompetensi → respons.
Jika pengalaman tersebut terus berulang dan dipelajari, terbentuk siklus baru:
Respons → pengalaman → evaluasi → pembelajaran → kaderisasi → kapabilitas organisasi.
Inilah gagasan Capability is Born.
PALAWA tidak harus terlebih dahulu menjadi organisasi kemanusiaan untuk memiliki kemampuan yang berguna dalam bencana. Kapabilitas tersebut dapat lahir sebagai produk samping dari praktik organisasi.
Namun ada risiko. Jika pengalaman hanya tersimpan dalam ingatan anggota senior, maka kemampuan tersebut ikut hilang ketika mereka meninggalkan organisasi.
Karena itu:
Experience is personal. Learning becomes institutional.
Kapabilitas baru benar-benar menjadi aset organisasi ketika pengalaman diterjemahkan menjadi budaya, dokumentasi, latihan, prosedur, jaringan, dan kaderisasi.
3. Ketika bencana menjadi medan baru
Ada sebuah metafora sederhana:
T-Rex ingin berburu, bukan diberi makan.
Metafora ini menggambarkan organisasi yang memiliki kemampuan tetapi membutuhkan medan nyata untuk menggunakannya.
Ketika bencana terjadi, pola kerja lapangan yang telah terbentuk dapat muncul secara spontan:
lihat medan → identifikasi kebutuhan → bergerak → improvisasi → menyelesaikan masalah.
Karena itu, beberapa respons PALAWA/YPI tampak sangat “lapangan”: pendataan, distribusi logistik, bantuan langsung, hingga intervensi teknis seperti pipanisasi Lombok 2018.
Namun respons cepat tidak boleh disamakan dengan kemampuan manajemen bencana secara keseluruhan.
Quick response ≠ sustained response ≠ recovery.
Organisasi seperti Mapala dapat memiliki burst capability yang tinggi—mampu bergerak cepat pada fase awal—tetapi menghadapi keterbatasan sumber daya ketika operasi berlangsung lama.
Di sinilah alumni, Yayasan, perguruan tinggi, pemerintah, NGO, dan jejaring organisasi menjadi penting.
4. Pengalaman, kehilangan, dan pembentukan manusia
Kapabilitas tidak hanya terbentuk dari keberhasilan.
Pengalaman berhadapan langsung dengan korban, kematian, atau kehilangan teman seperjalanan dapat menjadi titik perubahan dalam pembentukan manusia.
Dalam petualangan terdapat prinsip:
Kita tidak meninggalkan teman.
Dalam bencana, prinsip tersebut dapat berkembang menjadi:
Kita tidak meninggalkan manusia.
Pengalaman semacam ini tidak boleh romantisasi. Kematian dan kehilangan bukan syarat untuk menjadi Mapala. Tetapi ketika pengalaman tersebut terjadi, ia dapat menjadi sumber pembelajaran mengenai keselamatan, tanggung jawab, kepemimpinan, dan kemanusiaan.
Dengan demikian, sebagian kapabilitas justru dapat lahir dari pengalaman yang paling berat.
Kapabilitas tidak selalu lahir dari keberhasilan. Kadang ia lahir dari kegagalan, kehilangan, dan orang-orang yang tidak pernah pulang.
5. Dari organisasi kecil menjadi jaringan
Kekuatan organisasi seperti PALAWA tidak hanya berada pada jumlah anggota atau besarnya sumber daya, tetapi pada jaringan.
PALAWA dapat dipahami sebagai node dalam jaringan yang lebih luas: mahasiswa, alumni, YPI, KAP, Mapala lain, perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, dan organisasi kemanusiaan.
Inilah distributed capability.
Organisasi kecil tidak harus memiliki seluruh kemampuan sendiri.
Prinsipnya bukan:
“Kami memiliki semuanya.”
Tetapi:
“Kami tidak memiliki semuanya, tetapi kami tahu siapa yang memiliki kemampuan yang dibutuhkan.”
Keterbatasan sumber daya justru dapat mendorong terbentuknya jaringan.
6. Mapala dan perguruan tinggi
Fenomena PALAWA tidak berarti perguruan tinggi harus berubah menjadi lembaga kebencanaan.
Perguruan tinggi memiliki kekuatan berbeda: ilmu pengetahuan, penelitian, dokter, insinyur, psikolog, data, teknologi, fasilitas, dan sumber daya manusia multidisipliner.
Persoalannya bukan siapa yang lebih besar, tetapi bagaimana sumber daya tersebut dikonversi menjadi kapabilitas ketika masyarakat membutuhkan.
Mapala membawa kemampuan lapangan.
Perguruan tinggi membawa pengetahuan dan keahlian.
Alumni membawa kesinambungan dan jaringan.
Pemerintah membawa otoritas dan koordinasi.
NGO membawa kemampuan operasi kemanusiaan berkelanjutan.
Masyarakat membawa pengetahuan lokal dan kebutuhan nyata.
Tidak satu aktor pun harus memiliki seluruh kemampuan.
Yang dibutuhkan bukan satu organisasi yang mampu melakukan semuanya, tetapi ekosistem yang mampu menghubungkan kemampuan yang berbeda ketika diperlukan.
Karena itu, prinsip yang penting adalah:
Capability follows need, not institution.
7. Dari Capability is Born menuju Capability is Integrated
Kapabilitas dapat lahir dari praktik organisasi seperti Mapala. Kapabilitas juga dapat dibangun secara sengaja melalui pelatihan, SOP, sistem relawan, manajemen operasi, dan standardisasi.
Keduanya tidak perlu dipertentangkan.
Kapabilitas yang lahir dari pengalaman lapangan memiliki kekayaan tacit knowledge dan budaya.
Kapabilitas yang dibangun secara sengaja memiliki standardisasi dan kemampuan untuk direplikasi.
Model yang lebih lengkap adalah:
Capability is Born + Capability is Made = Capability is Integrated.
Dalam kerangka ini, PALAWA tidak perlu menjadi NGO kemanusiaan. Perguruan tinggi juga tidak perlu menjadi BNPB. Yang diperlukan adalah interoperabilitas.
Penutup
Selama bertahun-tahun seorang Mapala mungkin merasa sedang belajar mendaki gunung, menyusuri gua, mengarungi sungai, atau melakukan ekspedisi.
Tanpa disadari, ia sedang belajar menghadapi ketidakpastian.
Ia belajar mengambil keputusan ketika informasi terbatas. Ia belajar bekerja ketika kondisi tidak ideal. Ia belajar mengandalkan tim. Ia belajar untuk tidak meninggalkan kawannya.
Kemudian suatu hari datang bencana.
Medannya berbeda. Masalahnya lebih besar. Namun sebagian kemampuan yang dibentuk di medan petualangan ternyata dapat digunakan di sana.
Sekali turun ke medan petualangan, seseorang tidak lagi menjadi orang yang sama. Sekali turun ke bencana, ia pun tidak akan pernah menjadi orang yang sama.
Di situlah makna bukan bahwa Mapala sejak awal dirancang sebagai organisasi kebencanaan, tetapi bahwa petualangan telah membentuk manusia yang mampu menghadapi ketidakpastian—dan ketika bencana datang, kemampuan itu menemukan medan pengabdiannya.
Petualangan menjelaskan mengapa mereka bisa.
Kode etik dan budaya menjelaskan mengapa mereka mau.
Jaringan menjelaskan mengapa mereka dapat bergerak bersama.
Pengalaman menjelaskan mengapa mereka semakin siap.
Dan pembelajaran institusional menentukan apakah kemampuan tersebut bertahan lintas generasi.
Pada akhirnya, persoalannya bukan siapa yang paling hebat.
Pertanyaannya adalah:
Ketika rakyat membutuhkan, siapa yang memiliki kemampuan untuk bergerak—dan bagaimana kemampuan itu dapat dihubungkan menjadi kekuatan bersama?
Dari sanalah perjalanan dari medan petualangan menuju kapabilitas respons bermula.









