Sanusi Hardjadinata Sang Administrator Piawai

Aula kampus Dipatiukur barangkali tempat pertama dan terakhir yang memberi kesan mendalam bagi mahasiswa Unpad pada masanya. Saat ospek dan wisuda itulah awal dan akhir cerita panjang pendewasaan mahasiswa 90-an.

Bagi yang aktif dalam kegiatan mahasiswa interaksi dengan gedung bersejarah itu lebih intens. Para kuncen kampus Dipatiukur misalnya, sangat bahagia bila sedang ada acara besar  di aula Unpad karena konsumsi biasanya berlebih. Lumayan buat menambal perut keroncongan.

Namun tak banyak yang tahu bahwa aula UNPAD kampus Dipatiukur itu bernama Graha Sanusi Hardjadinata. Bahkan siapa Sanusi Hardjadinata pun kala itu barangkali tak ada yang tahu.

Pada saat menjabat sebagai gubernur, di tahun 1956 Sanusi Hardjadinata turut membantu dalam pendirian Universitas Padjadjaran dan berperan sebagai pelindung. Setelah selesai menjadi gubernur, Sanusi Hardjadinata kemudian menjadi Menteri Dalam Negeri dalam Kabinet Djuanda (Kabinet Karya) dan dilantik pada 9 April 1957.

Setelah tiga tahun menjabat, Sanusi Hardjadinata kemudian diangkat sebagai Duta Besar untuk Republik Persatuan Arab (Mesir) di Kairo selama empat tahun. Setelahnya, Sanusi Hardjadinata kembali ke Indonesia dan kemudian diminta Presiden Soekarno untuk memimpin Universitas Padjadjaran.

Sanusi Hardjadinata menjabat sebagai Rektor Unpad sejak 20 April 1964. Pada 1966, Sanusi Hardjadinata menyerahkan jabatan rektor kepada Prof. R. S. Soeria Atmadja karena ia diangkat sebagai Menteri Utama Bidang Industri dan Pembangunan.

Pada masa Orde Baru, Sanusi kembali terjun ke dunia politik nasional dan sempat memimpin Partai Demokrasi Indonesia era 1975 – 1980. Namun sebagai musuh politik rejim  Orde Baru pada masa itu bukan arena yang mudah. Konflik internal partai dan tekanan kekuasaan membuat perjalanan politiknya penuh tantangan. Meski demikian, ia tetap dikenang sebagai sosok yang menjaga sikap tenang dan tidak mudah larut dalam pertikaian terbuka.