Perguruan tinggi bukan lembaga kebencanaan. Ia bukan BNPB, bukan Basarnas, dan bukan organisasi kemanusiaan. Fungsi utamanya adalah pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Tetapi ketika bencana terjadi, pertanyaan yang tidak dapat dihindari adalah:
Apa yang dilakukan oleh seluruh pengetahuan, manusia, teknologi, jaringan, dan sumber daya yang dimiliki perguruan tinggi ketika masyarakat membutuhkannya?
Di sinilah dilema menara gading atau generator kapabilitas muncul.
Perguruan tinggi dapat menjadi tempat produksi pengetahuan yang berhenti di ruang kelas dan jurnal. Tetapi ia juga dapat menjadi tempat di mana pengetahuan, manusia, teknologi, dan jaringan dikonversi menjadi kemampuan yang berguna bagi masyarakat.
Persoalannya bukan apakah perguruan tinggi harus menjadi lembaga kebencanaan.
Persoalannya adalah:
Bagaimana perguruan tinggi menggunakan kapasitasnya ketika negara dan masyarakat menghadapi bencana?
1. Bencana menguji perguruan tinggi di luar ruang kelas
Bencana mempertemukan perguruan tinggi dengan persoalan yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan teori.
Ketika banjir, gempa, tsunami, longsor, atau erupsi terjadi, masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan.
Mereka membutuhkan:
- informasi yang dapat dipercaya;
- tenaga medis;
- pemetaan;
- asesmen kebutuhan;
- teknologi;
- komunikasi;
- logistik;
- psikososial;
- rekayasa;
- pendidikan kebencanaan;
- dan kemampuan mengambil keputusan dalam kondisi tidak pasti.
Perguruan tinggi memiliki hampir seluruh unsur tersebut.
Namun memiliki sumber daya tidak otomatis berarti memiliki kapabilitas respons.
Di sinilah perbedaan penting muncul:
Resources ≠ Capability.
Universitas dapat memiliki profesor, dokter, laboratorium, mahasiswa, kendaraan, gedung, jaringan alumni, dan anggaran.
Tetapi ketika bencana terjadi, pertanyaan sebenarnya adalah:
Siapa yang bergerak? Siapa yang mengambil keputusan? Berapa lama prosesnya? Siapa yang berada di lapangan? Dan bagaimana seluruh sumber daya tersebut disatukan?
2. Universitas bukan lembaga kebencanaan—tetapi tidak boleh menjadi penonton
Perguruan tinggi tidak perlu berubah menjadi BNPB kedua.
Justru kekuatan perguruan tinggi terletak pada fungsi yang berbeda dari lembaga negara.
Pemerintah memiliki otoritas, komando, regulasi, dan sumber daya publik.
Perguruan tinggi memiliki pengetahuan, keahlian, teknologi, penelitian, tenaga profesional, mahasiswa, dan jaringan.
Organisasi kemanusiaan memiliki kemampuan mobilisasi bantuan, logistik, relawan, dan operasi berkelanjutan.
Komunitas memiliki pengetahuan lokal, pengalaman, dan pemahaman terhadap kebutuhan masyarakat.
Tidak satu aktor pun harus melakukan semuanya.
Model yang lebih masuk akal adalah:
Pemerintah → otoritas dan koordinasi
Perguruan tinggi → pengetahuan dan keahlian
Mapala/kelompok lapangan → mobilitas dan kemampuan medan
NGO → operasi kemanusiaan dan keberlanjutan
Alumni → jaringan dan kesinambungan
Masyarakat → pengetahuan lokal dan kebutuhan nyata
Perguruan tinggi menjadi pengganda kapasitas, bukan pengganti lembaga kebencanaan.
3. Masalahnya bukan selalu kekurangan kemampuan, tetapi fragmentasi kemampuan
Di dalam sebuah universitas, kemampuan sebenarnya tersebar.
Ada fakultas kedokteran.
Ada teknik.
Ada psikologi.
Ada ilmu sosial.
Ada geografi, kehutanan, pertanian, komunikasi, teknologi informasi, dan berbagai disiplin lain.
Ada mahasiswa.
Ada Mapala.
Ada KSR.
Ada organisasi kemahasiswaan.
Ada alumni.
Ada pusat riset.
Ada jejaring dengan pemerintah dan masyarakat.
Secara teoritis, universitas memiliki kapabilitas multidisipliner yang luar biasa besar.
Tetapi kemampuan yang tersebar belum tentu menjadi kemampuan operasional.
Masalahnya dapat digambarkan sebagai:
Capability exists, but the connective tissue is weak.
Bukan tidak punya kemampuan.
Kemampuannya ada, tetapi belum tentu terhubung pada saat dibutuhkan.
Karena itu, pertanyaan strategis bagi perguruan tinggi bukan hanya:
“Apa yang kita miliki?”
melainkan:
“Bagaimana kita mengaktifkan apa yang kita miliki ketika bencana terjadi?”
4. Kecepatan dan daya tahan adalah dua persoalan berbeda
Perbandingan dengan Mapala memberikan pelajaran penting.
Organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) seperti PALAWA Unpad dapat memiliki deployment friction yang rendah. Anggotanya sudah terbiasa dengan medan, bekerja dalam kelompok kecil, mengambil keputusan lapangan, dan bergerak dengan sumber daya terbatas.
Perguruan tinggi memiliki sumber daya yang jauh lebih besar, tetapi proses pengambilan keputusan, administrasi, koordinasi, dan mobilisasi dapat membutuhkan waktu lebih panjang.
Namun setelah operasi berlangsung lama, keadaan dapat berbalik.
Perguruan tinggi memiliki:
- sumber daya manusia yang lebih luas;
- fasilitas;
- pendanaan;
- keahlian multidisipliner;
- kemampuan dokumentasi;
- dan kapasitas institusional.
Karena itu:
Quick response ≠ sustained response.
Dan:
Sustained response ≠ recovery.
Mapala mungkin unggul pada momentum awal.
Perguruan tinggi dapat memiliki keunggulan pada kedalaman pengetahuan dan kesinambungan.
Keduanya bukan lawan.
Mereka berada pada bagian yang berbeda dari siklus kebencanaan.
5. Mengapa perguruan tinggi harus melihat dirinya sebagai generator?
Karena universitas tidak hanya memiliki knowledge, tetapi juga manusia yang dapat mengubah pengetahuan menjadi tindakan.
Riset risiko dapat menjadi kebijakan.
Pemetaan dapat menjadi dasar mitigasi.
Pengetahuan teknik dapat menjadi desain bangunan yang lebih aman.
Penelitian kesehatan dapat menjadi program kesiapsiagaan.
Psikologi dapat menjadi intervensi trauma.
Data dapat menjadi sistem informasi risiko.
Mahasiswa dapat menjadi relawan dan penghubung masyarakat.
Pengalaman lapangan dapat menjadi bahan pembelajaran.
Dengan demikian terdapat rantai:
Knowledge → Expertise → Mobilization → Action → Learning → Institutional Capability.
Jika rantai tersebut berhenti pada publikasi:
Knowledge → Publication
maka perguruan tinggi berfungsi terutama sebagai produsen pengetahuan.
Jika pengetahuan dapat bergerak sampai ke masyarakat:
Knowledge → Capability → Action
maka perguruan tinggi mulai berfungsi sebagai generator kapabilitas.
6. Mahasiswa: energi sosial yang sering lebih cepat daripada institusi
Ada paradoks lain.
Universitas dapat bergerak lambat, tetapi mahasiswa sering bergerak lebih cepat.
Fenomena ini terlihat bukan hanya dalam bencana.
Ketika mahasiswa turun ke jalan untuk menyuarakan persoalan rakyat, mereka menunjukkan bahwa kehidupan kampus tidak sepenuhnya terpisah dari masyarakat.
Dalam bencana, energi yang sama dapat muncul dalam bentuk berbeda.
Medannya berbeda.
Metodenya berbeda.
Tetapi terdapat satu titik temu:
mahasiswa merespons persoalan yang dianggap menyentuh kepentingan masyarakat.
Universitas bukan lembaga politik.
Universitas juga bukan lembaga kebencanaan.
Namun universitas adalah tempat lahirnya mahasiswa yang memiliki tradisi intelektual, sosial, dan moral untuk merespons persoalan masyarakat.
Karena itu, tantangannya bukan mematikan energi tersebut dengan birokrasi, melainkan menghubungkannya dengan pengetahuan, keselamatan, dan sistem yang lebih baik.
7. Mapala menunjukkan sesuatu yang mungkin hilang dari perguruan tinggi
Fenomena Mapala menjadi penting bukan karena Mapala harus mengambil alih fungsi universitas.
Justru sebaliknya.
Mapala memperlihatkan bagaimana kapabilitas dapat lahir dari praktik organisasi.
Petualangan membentuk kemampuan lapangan.
Jaringan membentuk kemampuan mobilisasi.
Pengalaman membentuk intuisi.
Kode etik membentuk orientasi moral.
Kemudian bencana mengaktifkan semuanya.
Perguruan tinggi dapat mempelajari mekanisme tersebut tanpa harus mengubah seluruh mahasiswa menjadi Mapala.
Pelajarannya adalah:
Kapabilitas tidak hanya dibangun melalui kurikulum. Kapabilitas juga dibangun melalui pengalaman.
Karena itu perguruan tinggi perlu menyediakan ruang bagi pengalaman lapangan untuk dikonversi menjadi pembelajaran institusional.
8. Local university: jangan selalu melihat ke pusat
Respons bencana juga tidak seharusnya selalu berpusat pada universitas besar di kota-kota utama.
Universitas lokal memiliki aset yang sering tidak dimiliki tim dari luar:
- kedekatan geografis;
- pengetahuan lokal;
- jaringan masyarakat;
- hubungan dengan pemerintah daerah;
- pemahaman bahasa dan budaya;
- dan kemampuan hadir berulang kali setelah perhatian media menghilang.
Sementara itu, universitas dari luar dapat membawa keahlian yang mungkin tidak tersedia secara lokal.
Karena itu model yang lebih menarik adalah:
Local university = local node
External university = specialized capability
Keduanya terhubung melalui jaringan.
Prinsipnya:
Capability follows need, not institution.
Bukan universitas mana yang paling terkenal yang harus selalu datang.
Yang lebih penting adalah kemampuan apa yang dibutuhkan dan siapa yang paling tepat menyediakannya.
9. Dari institution-centric menuju network-centric
Selama ini organisasi cenderung berpikir:
“Kami punya tim.”
Model jaringan berpikir berbeda:
“Kami tidak harus memiliki semuanya. Kami harus tahu siapa yang memiliki kemampuan yang dibutuhkan.”
Mapala sebenarnya telah mempraktikkan logika ini secara informal selama puluhan tahun melalui hubungan antarkampus, alumni, komunitas, dan jejaring lapangan.
Perguruan tinggi memiliki peluang untuk membangun versi yang lebih sistematis:
Universitas lokal → kebutuhan dan akses
Universitas lain → keahlian khusus
Mapala/KSR → kemampuan lapangan
Alumni → jaringan dan kesinambungan
NGO → operasi dan logistik
Pemerintah → otoritas dan koordinasi
Ini menghasilkan model distributed capability.
Kekuatan tidak terkonsentrasi dalam satu institusi.
Kekuatan tersebar, tetapi dapat diaktifkan ketika diperlukan.
10. Menara gading atau generator kapabilitas?
Pertanyaan dalam buku ini akhirnya bukan apakah perguruan tinggi memiliki banyak profesor, gedung, laboratorium, pusat riset, atau mahasiswa.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:
Apa yang terjadi pada seluruh kemampuan itu ketika rakyat menghadapi bencana?
Jika pengetahuan hanya berhenti di ruang kelas, jurnal, konferensi, dan laporan, perguruan tinggi berisiko menjadi menara gading.
Jika pengetahuan dapat diubah menjadi keterampilan, keterampilan menjadi tindakan, tindakan menjadi pengalaman, dan pengalaman menjadi pembelajaran institusional, perguruan tinggi dapat menjadi generator kapabilitas.
Rumus sederhananya:
Knowledge → Capability → Action → Learning → Resilience
Penutup: bukan menjadi BNPB, tetapi menjadi pengganda kapasitas
Perguruan tinggi tidak perlu menjadi lembaga kebencanaan.
Ia tidak perlu menggantikan pemerintah.
Ia tidak perlu mengambil alih NGO.
Ia juga tidak perlu mengubah Mapala menjadi organisasi kemanusiaan profesional.
Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk menghubungkan apa yang sudah dimiliki oleh masing-masing aktor.
Perguruan tinggi memiliki ilmu.
Mahasiswa memiliki energi.
Mapala memiliki pengalaman lapangan.
Alumni memiliki jaringan.
NGO memiliki sistem operasi kemanusiaan.
Pemerintah memiliki kewenangan.
Masyarakat memiliki pengetahuan tentang dirinya sendiri.
Persoalannya adalah apakah semuanya berjalan sendiri-sendiri atau dapat menjadi sebuah sistem.
Maka pertanyaan akhir buku ini bukan:
“Apakah perguruan tinggi mampu menangani bencana?”
Perguruan tinggi memang bukan lembaga yang dirancang untuk menangani seluruh bencana.
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
“Apakah perguruan tinggi mampu mengubah pengetahuan, manusia, teknologi, dan jaringan yang dimilikinya menjadi kapabilitas yang berguna ketika masyarakat membutuhkan?”
Jika jawabannya ya, perguruan tinggi bukan sekadar tempat menghasilkan pengetahuan.
Ia menjadi generator kapabilitas.
Dan jika jawabannya belum, maka kritiknya bukan bahwa perguruan tinggi harus menjadi lembaga kebencanaan.
Kritiknya jauh lebih sederhana:
Jangan sampai universitas memiliki begitu banyak kemampuan, tetapi masyarakat tidak pernah merasakan kekuatannya ketika mereka paling membutuhkannya. :::









