Area Backpacker di Saigon

Menikmati Caphe den Nong, kopi hitam khas VietnamKawasan backpacker di HCM berada di Distrik 1 yaitu di sekitar jalan Bui Vien, Detham dan Pham Ngun Lao. Disini dapat ditemukan berbagai hotel dan penginapan dengan harga yang bervariasi mulai dari USD 12/kamar hingga setaraf dengan hotel berbintang. Kawasan hotel-hotel bintang sendiri juga banyak terdapat di Distrik 1 ini dan bisa dicapai dengan berjalan kaki.
Dari bandara Than Son Nat ada bis dengan karcis seharga 5000 VND bila kita akan menuju kesini. Bila ingin memakai taxi carilah yang direkomendasikan, maka tarifnya berkisar 10 USD. Sayangnya, bila kita memakai penerbangan budget airline maka pesawat baru mendarat pukul 8 malam, sehingga bis sudah tak tersedia lagi karena hanya sampai pukul 7 malam. Siapkan pecahan dollar kecil, karena seringkali kembalian dari supir tak sesuai dengan hitungan kita.
Sebetulnya tergantung pada tujuan anda akan kemana, namun gang antara Bui Vien dan Pham Ngum Lao adalah tempat yang cukup strategis untuk menginap. Kawasan ini cukup dekat untuk berjalan kaki ke Cho Ben Tanh yang sering menjadi tujuan belanja para turis dan juga dilalui bis-bis ke berbagai tujuan. Namun cara yang paling baik untuk mengetahui seluk beluk kota HCM adalah dengan menyewa motor yang banyak ditawarkan oleh pemilik penginapan. Tarifnya sebesar USD 5 per hari plus mengisi bensin sendiri.
Bagi kaum muslim, Vietnam memang bukan surga makanan halal namun tak perlu khawatir karena di Distrik 1 banyak terdapat fast food seperti KFC, Loteria atau Pizza hut. Makanan etnis India, Melayu dan Turki juga ada walau tak banyak. Sebuah rumah makan halal juga terdapat tak jauh dari hotel yaitu di seberang taman. Beberapa rumah makan halal yang lain terletak agak jauh yaitu di dekat mesjid Nurul Iman dekat hotel Sheraton. Namun harga porsi makanan halal ini biasanya dua kali lipat dari menu di restoran biasa. Saya sendiri tak terlalu pilih-pilih dalam mencari tempat untuk makan, hanya menghindari makanan yang berbau pork saja.
Sore hari di sekitar Cho Ben Tanh sangat kondusif untuk hang out, karena di trotoar jalan yang lebar itu banyak jongko-jongko yang berjualan makanan dan minuman. Selain dapat masuk ke dalam pasar kita juga bisa berjalan-jalan di pertokoan sekitarnya yang merupakan kombinasi dari toko tradisoinal dan modern. Sambil minum air tebu kami hang out di jongko sambil bergiliran belanja ke pasar. Makanan yang paling banyak terdapat di jongko-jongko ini adalah pho (dibaca fhee) yang merupakan sup mi putih dipadu dengan daging atau telur. Bagi yang muslim harus benar-benar meminta daging ayam (Ga), sapi (Bo) atau telur (trung), jangan sampai melahap Cha dan Heo yang artinya babi. Namun bila menghindari keragu-raguan selalu ada fast food seperti KFC atau Loteria yang tersedia tak jauh dari keramaian.
“In dollar or dong?” demikian pedagang menanyakan mata uang pembayaran dari turis asing.
Disini mata uang dollar Amerika dan mata aung hard currency lain seperti Euro dan SGD diterima luas, sehingga dalam bertransaksi kita bisa melakukannya dalam Vietnam Dong (VND) atau mata uang asing. Namun jangan harap bisa bertransaksi dalam IDR, walau di banyak lapak suvenir mata uang negara tetangga seperti Ringgit Malaysia dan Dollar Singapura diterima sebagai alat transaksi. Komunikasi memang sering jadi hambatan karena tak banyak pedagang yang bisa berbahasa Inggris, sehingga dalam tawar menawar harus selalu ada kalkulator. Pedagang mengetikkan harganya di kalkulator lalu kita mengoreksi sesuai tawaran dan seterusnya.