Dibalik biaya kuliah, gedung kampus yang megah, dosen yang hebat dan penelitian yang mahal ada peluh rakyat yang ikhlas. Mereka yang mungkin tidak pernah duduk di bangku kuliah namun banting tulang di sawah, di pasar, di pabrik, di jalanan—agar anak-anak negeri bisa pergi ke kampus.
Mereka tidak menuntut balas. Mereka tidak meminta ucapan terima kasih. Mereka hanya bekerja, dan bekerja, dan bekerja—karena mereka percaya: pendidikan adalah jalan menuju masa depan.
Rakyat berkorban agar mahasiswa bisa belajar. Mahasiswa menuntut ilmu untuk bisa memberi kembali. Namun itu tak perlu menunggu lulus, ketika bencana datang mereka turun ke lapangan—bukan karena kewajiban, tapi karena panggilan yang lahir dari kesadaran:
“Aku ada karena mereka berkorban. Maka aku harus ada untuk mereka.”

Organisasi seperti mahasiswa pecinta alam (Mapala) dikenal bukan hanya karena melakoni petualangan besar namun juga karena respons cepat saat bencana: dari tsunami, gempa, longsor hingga banjir bandang.
Mereka tak segan turun ke lumpur, ke reruntuhan, ke garis depan bencana—bukan karena mereka hebat, tapi karena mereka ingin membayar utangnya kepada rakyat—meskipun tahu tak akan pernah bisa melunasinya.
Dan di sanalah kekuatan sesungguhnya berada. Bukan dengan menyusun anggaran, mengajukan proposal. Tidak perlu prosedural kerena quick respon adalah berpacu dengan waktu.
Mapala menuju garis depan bencana bukan dengan anggaran besar, tapi dengan koordinasi lintas daerah, penggalangan donasi, memanfaatkan jaringan mapala, dan kehadiran langsung di posko-posko pengungsian.
Mereka memilih untuk tidak diam di menara gading. Ketika rakyat merasakan penderitaan, mahasiswa sebagai anak kandung rakyat menanggalkan semuanya dan pergi ke garis depan bencana. Tempat mereka adalah bersama penderitaan rakyat.
Mereka sadar bahwa mereka ada di kampus karena pengorbanan rakyat. Keikhlasan tidak pernah berhenti di satu titik, ia mengalir seperti air—dari rakyat ke mahasiswa, dari mahasiswa ke rakyat, dari satu hati ke hati lainnya. Keikhlasan berantai yang tidak pernah putus, meskipun dunia terus bergerak tanpa peduli.
Mereka bukan pahlawan bahkan jauh dari itu. Namun saat bencana datang dan semua bingung – panik – membeku, mereka punya kapabilitas untuk membantu. Mereka turun karena merasa harus melakukannya.
@bayubhar









