Studi Kasus Disaster Management YPI (Yayasan Palawa Indonesia)
Ada sebuah pertanyaan yang menarik dalam perjalanan Yayasan Palawa Indonesia (YPI): mengapa sekelompok alumni pencinta alam harus membangun kemampuan menghadapi bencana di luar pagar kampusnya sendiri?
Pertanyaan ini bukan sekadar soal siapa yang memiliki peralatan, siapa yang punya anggota paling banyak, atau siapa yang berangkat paling cepat ketika bencana terjadi. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: dari mana sebuah kelompok memperoleh kemampuan untuk bertindak, dan bagaimana kemampuan itu bisa bertahan ketika orang-orang yang membangunnya mulai berkurang atau tidak lagi berada di garis depan?
Perjalanan YPI memberi kita jalan untuk membicarakannya.
1. Loncat pagar: ketika alumni memilih membangun sendiri
Alumni PALAWA Unpad memiliki bekal yang tidak datang begitu saja. Pengalaman berkegiatan di alam terbuka mempertemukan mereka dengan medan yang sulit, perjalanan panjang, keterbatasan logistik, serta situasi yang menuntut keputusan cepat. Pengalaman semacam itu bisa menjadi modal ketika bencana datang.
Namun, kemampuan bergerak di lapangan tidak otomatis berubah menjadi kemampuan merespons bencana. Dibutuhkan latihan, pengalaman berulang, organisasi, jaringan, dan kemauan untuk terus terlibat. Di sinilah keputusan untuk membangun disaster management sebagai organ YPI menjadi penting.

Para alumni tidak sekadar meneruskan kegiatan pencinta alam setelah meninggalkan kampus. Mereka membangun wadah di luar struktur kampus untuk mengembangkan kemampuan menghadapi bencana. Mereka tidak lagi menjadikan universitas sebagai tumpuan utama bagi pembangunan kapabilitas tersebut.
Menghadapi kebencanaan UGM telah mempunyai PSBA sejak 1995, ITB mengembangkan kelompok penelitian bencana sejak 2003 dan pusat penelitian pada 2005, sementara pada saat itu tak ada bayangan kapan Unpad merintis kelembagaan serupa yang bisa menjadi mitra dialog mereka.
Pada tahun 2000-an akhir para alumni Palawa merasa tidak punya waktu lagi menunggu Unpad memiliki struktur kebencanaan yang memadai untuk mulai bergerak. Setelah didirikan tahun 2005 maka sekitar tahun 2008 YPI mulai merintis kemampuan respon bencana dengan membentuk divisi disaster management.
Inilah yang dimaksud loncat pagar. Ini bukan berarti putus hubungan dengan Unpad. Pagar imajiner itu adalah batas struktur dan ketergantungan. Para alumni memilih keluar dari batas tersebut agar dapat membangun kemampuan yang lebih sesuai dengan kebutuhan respon bencana.
Tentu ini tidak berarti kampus sama sekali tidak berperan atau tidak memiliki kapasitas. Makna yang lebih spesifik: YPI menjadi kendaraan mandiri bagi alumni untuk membangun kapabilitas yang tidak sepenuhnya bergantung pada struktur universitas.
Dari sini, ada pelajaran penting. Kadang-kadang, kemampuan yang kelak dibutuhkan oleh sebuah ekosistem justru tumbuh terlebih dahulu di pinggir ekosistem itu.
2. Lima belas tahun di lapangan: kemampuan tidak lahir dari nama organisasi
Kapabilitas tumbuh ketika organisasi berulang kali berhadapan dengan persoalan nyata. Mereka belajar mengakses lokasi, mengenali kebutuhan, mengatur pergerakan, mengatasi keterbatasan, dan bekerja bersama orang-orang dengan latar belakang berbeda.
Setiap kejadian memberi pengalaman yang kemudian diolah menjadi pengetahuan dapat memperbaiki tindakan berikutnya. Lama-kelamaan, sesuatu yang awalnya hanya bisa dilakukan oleh beberapa orang berpengalaman berpotensi menjadi kemampuan yang lebih terorganisasi.

Lima belas tahun keterlibatan YPI dalam respons bencana, sebagaimana tercermin dalam rekam jejaknya, memberi dasar historis yang kuat untuk mempelajari proses tersebut.
Yang menarik bukan semata-mata berapa kali YPI turun ke lapangan. Yang perlu kita cari adalah apa yang terkumpul dari perjalanan panjang itu: pengetahuan praktis, cara bekerja, hubungan antarpelaku, serta kemampuan membaca situasi yang tidak selalu bisa diperoleh melalui pelatihan di dalam ruangan.
Namun, ada persoalan yang sering muncul pada organisasi yang kemampuannya sangat bergantung pada pengalaman orang-orang tertentu.
Apa yang terjadi ketika orang-orang itu mulai jarang terlibat? Apa yang terjadi ketika generasi yang membangun kemampuan tersebut tidak lagi mendominasi kegiatan? Apakah seluruh pengalaman ikut menghilang bersama mereka?
Pertanyaan inilah yang membawa kita ke tahap berikutnya.
3. Transfer kapabilitas: kemampuan tidak harus tinggal di rumah asalnya
Bayangkan sebuah kelompok telah bertahun-tahun belajar menghadapi bencana. Mereka memiliki pengalaman, memahami cara bergerak, dan mengenal orang-orang yang bisa dihubungi ketika keadaan mendesak.
Lalu, kelompok itu mulai menyadari bahwa mereka tidak mungkin selalu hadir di setiap tempat dan setiap kejadian.
Ada dua pilihan.
Pilihan pertama adalah mempertahankan semua kemampuan di dalam organisasi sendiri. Organisasi berusaha terus menjadi pusat kegiatan, pusat pengetahuan, dan pusat pengambilan tindakan. Selama organisasi kuat, kemampuan itu dapat digunakan. Tetapi jika organisasinya melemah, kemampuan tersebut ikut terancam.
Pilihan kedua adalah membuat kemampuan itu dapat digunakan oleh pihak lain. Pengalaman dibagikan. Orang-orang lain dilibatkan. Hubungan dibangun. Pengetahuan dan cara kerja diteruskan kepada kelompok yang memiliki kebutuhan serta kecocokan.
Inilah yang kita sebut transfer kapabilitas.

YPI tidak lagi menjadi satu-satunya tempat kemampuan tersebut berada. Kapabilitas yang semula terkumpul di dalam satu organisasi mulai berpeluang hidup di beberapa tempat sekaligus.
Organisasinya mungkin tidak bertambah besar, tetapi jangkauan kemampuan yang pernah dibangunnya dapat bertambah luas.
4. Kapabilitas sebagai open source
Di sinilah kita dapat memakai analogi open source.
Dalam dunia perangkat lunak, suatu karya tidak hanya digunakan oleh pembuatnya. Kode dan pengetahuannya dapat dibuka agar pihak lain mempelajari, menggunakan, menyesuaikan, dan mengembangkannya.
Kapabilitas kebencanaan tentu tidak sama persis dengan perangkat lunak. Pengalaman lapangan tidak bisa dipindahkan begitu saja seperti menyalin berkas. Ia membutuhkan manusia, latihan, kepercayaan, dan kesempatan untuk menerapkannya.

Namun, semangat dasarnya serupa: kemampuan tidak dimonopoli oleh pihak yang membangunnya.
IKA Unpad, misalnya, memiliki struktur alumni yang berbeda dari YPI. KAP memiliki hubungan dengan komunitas alumni PALAWA. PRK memiliki orientasi riset dan pengembangan pengetahuan. Demikian pula organisasi dan komunitas yang bersentuhan dengan aktivitas YPI. Mereka tidak harus berubah menjadi salinan YPI agar dapat memanfaatkan pengalaman yang berasal darinya.
Justru perbedaan itulah yang berpotensi memperluas kegunaan kapabilitas.
Kemampuan lapangan dapat bertemu dengan jaringan alumni. Pengalaman operasi dapat bertemu dengan pengetahuan akademik. Hubungan yang semula hanya dimiliki segelintir orang dapat membuka jalan bagi kolaborasi yang lebih luas.
Tentu, semua itu tidak terjadi secara otomatis. Transfer harus benar-benar diupayakan, penerima semampunya menyerap tak perlu menyeluruh, dan kemampuan yang diterima pun perlu disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi masing-masing.
Tetapi arah pemikirannya jelas: tujuan membangun kapabilitas tidak harus berhenti pada membuat satu organisasi semakin kuat.
Tujuannya dapat diperluas menjadi membuat lebih banyak kelompok mampu melakukan sesuatu yang sebelumnya hanya mampu dilakukan oleh sedikit orang.
5. YPI sebagai busur, kapabilitas sebagai panah
Bayangkan YPI sebagai busur. Kapabilitas yang dibangunnya adalah panah. Busur dibuat untuk melontarkan panah. Ia memberikan tenaga, arah awal, dan dorongan agar panah bergerak menuju sasaran.
Demikian pula kapabilitas yang telah dibangun oleh YPI. Setelah diteruskan kepada pihak lain, kemampuan itu tidak harus terus berada di bawah kendali YPI. Ia dapat digunakan, disesuaikan, dan dikembangkan melalui struktur organisasi yang berbeda.
Maka keberhasilan YPI tidak harus diukur dari apakah ia selalu menjadi pihak yang paling depan dalam setiap respons bencana.

Keberhasilan juga dapat dilihat dari pertanyaan lain: apakah pengalaman yang telah dibangunnya membuat kelompok lain lebih mampu bergerak? Apakah kemampuan tersebut tetap berguna ketika YPI sendiri tidak turun ke lapangan? Apakah orang-orang yang menerima pengalaman itu kelak mampu mengajarkannya lagi kepada orang lain?
Jika jawabannya terbukti ya, maka pengaruh YPI melampaui jumlah operasi yang dilakukannya sendiri.
Ia telah membantu menciptakan kemampuan yang tidak sepenuhnya bergantung pada keberadaan organisasinya.
Dan di situlah makna transfer kapabilitas menjadi penting. YPI tidak perlu ngotot menjadi organisasi yang mampu menghadapi bencana sendirian. Justru mendorong kemampuan menghadapi bencana itu tidak berhenti pada dirinya sendiri.
Penutup: kapabilitas yang melampaui organisasi
Kisah kebencanaan YPI mempertemukan dua gerakan yang tampak berlawanan, tetapi sesungguhnya saling berhubungan.
Pada awalnya, pagar menjadi batas yang perlu dilampaui agar kemampuan dapat tumbuh. Pada tahap berikutnya, kemampuan itu dapat bergerak melintasi batas-batas organisasi yang berbeda.
Maka pertanyaan akhirnya bukan lagi semata-mata apakah YPI akan terus mengembangkan kebencanaan menjadi lebih besar.
Pertanyaannya adalah: apakah kemampuan yang dibangun selama lima belas tahun itu dapat membuat ekosistem kebencanaan kampus menjadi lebih mampu, bahkan ketika YPI tidak lagi hadir sebagai pelaku utama?
Itulah pertanyaan yang membuat kisah ini lebih besar daripada riwayat sebuah yayasan.
Ia berbicara tentang bagaimana kemampuan lahir dari pengalaman, bagaimana kemampuan berpindah dari satu kelompok ke kelompok lain, dan bagaimana sebuah organisasi dapat menjaga warisannya tanpa harus memonopoli hasilnya.
YPI membangun busurnya di luar pagar. Lalu, ketika saatnya tiba, ia melontarkan panah-panahnya melampaui dirinya sendiri.
Dan tugas berikutnya bukan sekadar menghitung seberapa jauh panah itu terbang. Namun memastikan bahwa busur tetap terawat, pengalaman tetap diwariskan, dan generasi baru kelak memiliki kemampuan untuk melontarkan panah-panahnya sendiri.
Penulis:
Bayu Bharuna, ketua YPI periode 2008 -2021










